Kenangan Awal Mula Parkour

Written by radd on June 10, 2008 – 11:10 am -

Hanya beberapa tahun lalu, parkour hanyalah methode latihan underground kecil-kecilan yang sejumlah kelompok teman berbagi. Di dalam beberapa tahun lewat, parkour meledak menjadi fenomena sedunia, berkembang dengan cepat, menarik perhatian segala macam orang dengan tipe motif berbeda.

Parkour sekarang ada dimana mana, internet, reklame, TV, majalah bahkan di layar bioskop. Sebagian merek-merek sudah mengeluarkan produk-produk yang “diadaptasikan” untuk parkour. Dan tak lama lagi parkour akan masuk di antara dunia fitness dan toko-toko skateboard, dan toko olahraga lokal anda.

Yang jelas Jaman telah berubah.

Saya merasa sangat beruntung untuk menemukan parkour sebelum ledakan besar ini terjadi. Di waktu pas shooting video latihan merupakan sebuah peristiwa yang besar. Di jaman waktu semua traceur[traceur penganut parkour lelaki, traceuse penganut parkour wanita] saling kenal satu sama lain.

Kontak pertamaku dengan parkour adalah melalui laporan televisi “Stade 2″ diikuti oleh film Yamakasi. Dulu hanya ada satu website parkour. Si Tim punya [Rim dari Pisteur Team].

Hanya ada sedikit informasi yang tersedia [terkadang benar terkadang tidak]. Ini membuat parkour terlihat seperti seni yang hilang. Kita [sejumlah orang yang sadar tentang parkour tapi tidak tinggal di
kota Lisses, tidak terlalu tahu tentang siapakah atlet-atlet yang hebat itu, kita juga tidak tahu seperti apa sebenarnya kemampuan mereka, apa yang mereka bisa lakukan... Pakour tertutup oleh daya pesona terahasia dan misterius.
Mimpiku, tentu saja, adalah untuk bertemu dengan orang orang ini dan belajar dari mereka. Saya tahu mereka tinggal di Lisses, tapi informasi itu saja tidak cukup. Setelah beberapa bulan saya berhasil mendapatkan kontak dengan Mike dan Johann [saudaranya Stephan Vigoux = salah satu murid pertama David Belle]. Saya ingat chatting di MSN dengan Johann dan masuk ke perdebatan bodoh. Ada kesalahpahaman, dia pikir saya mau menantang traceur-traceur di Lisses!

Sewaktu saya menjelaskan intensi yang sebenarnya, saya hanya mau ke Lisses untuk belajar dengan penuh kerendahan hati dan hormat [admirasi saya untuk mereka sangatlah besar], lalu Stephane mengambil keyboardnya dari Johann dan bilang “kalau kamu mau datang untuk belajar, kami akan sangat senang menyambut anda.”

Waktu itu saya baru 17 tahun, seumuran itu, untuk pergi sendiri keluar kota untuk beberapa hari, menemui orang-orang yang tidak saya kenal [terlebih ornag-orang yang sangat gua hormati] adalah ide yang agak bikin stress. Saya beli tiket kereta, booking hotel buat tiga malam. Sekitar September saya pergi ke Lisses. Saya rasa saya adalah orang pertama yang datang dari luar kota ke Lisses untuk berlatih bersama mereka.

Jadi saya tidak tahu apa yang bisa saya harapkan. Dari hal-hal lain, saya berharap untuk bertemu David Belle, itu mungkin karena saya belum sadar betapa hebatnya orang-orang yang lainnya.

Setelah membuat Johann menjemput dan mencari dari stasiun ke stasiun [saya salah turun stasiun], akhirnya saya dapat kehormatan untuk menyalami tangan traceur asli. Kita pergi ke Lisses bersama dengan Mike di Mobil murahnya Johann, itu sekitar jam 10.30 pagi. Musik bermain keras dari speaker mobil, saya duduk di belakang terlempar dari satu sisi ke sisi lain [kenanganku tentang cara Johann mengemudi masih membuatku gemetaran sampai sekarang]. Botol-botol air kosong menggelinding dekat kakiku…Satu dari tiga hari latihan terbaikku baru saja dimulai.

Pikiranku dipenuhi dengan imaginasi latihan tegang yang gila, saya memang mengantisipasikan hal-hal seperti itu di Lisses. Waktu sampai di lokasi kita bertemu dengan Seb Goudot, kami berempat mulai berlatih bersama. Saya kurang ingat apa yang kita buat, tapi saya ingat betapa terkesannya saya sama mereka, mereka hanya lebih tua sedikit dari
saya, tapi mereka sudah berlatih untuk sekitar 2 tahun. Dan kemampuan
mereka sangatlah hebat. Ternyata bukan hanya David Belle yang punya reputasi tinggi. Sering kali mereka memlompat rintangan yang terasa Impossible. Mereka membuktikan cara berpikir saya salah. Mereka mematahkan batasan cara berpikirku. Mengajarkan pelajaran penting di kehidupanku : Lupakan yang namanya “Impossible”, hal yang seperti itu tidak ada!. Tak ada apapun yang Impossible kalau kamu percaya diri dan bekerja keras, kamu bisa menggapai apa saja! Sekarang walaupun dihadapkan dengan rintangan yang tak berprikemanusiaan, saya selalu membuka pikiranku,”what if…?”

Dalam 3 hari di Lisses, say bertemu dengan traceur-traceur lain, tapi paling sering berlatih dengan Johann, Seb dan Mike. Mereka memberikan waktu dan tenaga mereka tanpa minta imbalan. Di waktu ini, saya hanya orang yang kurang percaya diri, yang saya butuhkan hanyalah seorang untuk mengajar saya.

“Tidak apa-apa kalau loe kagak nyampe, kalu loe takut jangan loncat, kagak usah malu, sabar/santai jangan buru buru…”

Saya butuh seorang yang bisa percaya sama saya, bahwa saya bisa menggapai sesuatu, kalau saya ini bukan pecundang . Saya butuh seorang untuk menuntun saya. Dan orang-orang inilah yang membantu saya, dan mereka mengubah hidup saya.

Sangatlah hebat untuk berpikir bagaimana sesuatu hal yang kecil untuk seorang bisa berarti segala-galanya untuk orang yang lain. Saya berhutang budi pada mereka, merekalah yang membuka dan mengaktifkan cara berpikir baru, membuat dan merencanakan hal-hal baru yang tak mungkin bisa kulakukan beberapa tahun lalu. Untuk ini mereka mendapatkan kehormatan hutang budi dan syukurku.

Mereka punya cara berelasi yang sempurna. Terkadang baik dan sopan, terkadang jadi bangsat-bangsat yang sok tegas, berteriak untuk terus mendorong saya. Mereka punya teknik untuk terus mendorong saya waktu saya sudah tidak mau loncat lagi.

Mereka akan tanya dengan baik “apakan kamu mau menyerah?” Saya malu banget, saya mengenal orang-orang ini dan apa pendapat mereka tentang menyerah. Dan ini selalu mengembalikanku untuk terus beraksi.

Setelah hari pertama seluruh badanku sudah kecapean…Johann pernah bawa saya ke gedung sekolah di Lisses untuk latihan Fisik. Stephan dan yang lain sudah mulai latihan disitu mengulang beberapa teknik. Saya disuruh untuk bergelantung menyeberang di tepi tembok sekolah. Jaraknya cuma 15 meteran tapi karena saya sudah kecapeaan, ya itu jadi susah banget. Sebelumnya telapak tangan saya sudah di kondisi kacau, berdarah di sana-sini dan otot tangan saya membuat gerakan gerakan kontraksi yang tidak volounter.

Setelah menyeberang 1 meter, saya sudah ingin berhenti. Jadi saya naik ke posisi “istirahat.” Johannn ada di atas dan terus mendorong saya untuk terus lanjut, dan traceur-traceur yang lain melihat saya dan membuat opini mereka masing-masing. Saya terus lanjut, centimeter demi centimeter saya bergelantung menyeberangi tembok keparat itu, terkadang harus istirahat lama.

Semua traceur-traceur di Lisses telah melalui latihan yang jauh lebih tegang. Ada sesuatu di Lisses yang membuat sebuah rasa untuk berlatih lebih keras. Mereka pintar untuk membuat setiap latihan, setiap loncatan menjadi lebih susah. Kalau kamu tidak latihan sampai mampus, kamu bakal dipangil “pemalas”!. Jika seorang berhasil membuat sebuah loncatan, member-member yang lainnya juga harus bisa, dikombinasikan dengan “rule of three” [hukum angka 3][satu sama dengan kosong, Kamu harus bisa melalui sebuah rintangan tiga kali baru bisa dibilang sukses]. Ini membuat mereka menjadi Traceur yang hebat. Dengan sifat untuk berusaha menyamai/melebihi yang positif dan baik adalah salah satu kunci untuk berkembang bila anda berlatihan dengan sebuah group.

Mereka bercerita tentang berlatih di bawah hujan dan salju [saya segera mengalami hal yang sama]. Mereka membawa saya ke latihan di kota Evry jam 4 pagi [Mike dan Johann melakukan ini sekitar 3 ke 4 kali seminggu di musim panas]. Mereka mengajarkan saya “Jangan pernah merasa cukup, selalu dorong dirimu sedikit lebih banyak lagi”

Saya tahu semua latihan yang saya lalui itu tak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan apa yang orang-orang pertama lakukan, terlebih David Belle. Dia punya kegiatan yang diceritakan seperti legenda, karena hanya sedikit prestasi-prestasinya yang terekam di foto atau video:

1000 loncatan dari bagian kepala martil di Dmae du lac[tembok panjat yang sering terlihat di video-video parkour Perancis].

Bergelantung menyeberangi seluruh porsi batu aqueduct tua setiap pagi

Saya mendengarkan sejuta cerita tentang dia. Waktu saya bertemu dengan David Belle, dia baru saja selesai dengan periode latihan gila. Hormat saya buat dia melebihi segala batasan apapun. Sewaktu kami di Damier, di bawah pohon di sebuah malam, kita lagi pemanasan sambil ngobrol waktu David memberikan saya beberapa kue: “Habiskan isi kardus ini kalau kamu mau” kata David. Saya makan satu biji dan sisanya saya simpan…Kardus itu bertahan di kamar saya sekitar 1 bulan kayak barang antik berharga.

Saya bertemu dengan David Belle beberapa kali dalam 3 hari itu. Dia bersama dengan Stéphane, Kazuma, Sebastian Foucan dan yang lainnya, di group “orang orang besar”, karena level mereka sangat jauh diatas kalau dibandingkan dengan Mike, Johann dan Seb. Tapi saya harus bisa menunggu sebelum saya bisa berlatih bersama dia, jadi saya berlatih lebih sering sama group “orang-orang kecil”, dan karena saya juga malu mau bertanya langsung sama dia. Saya rasa saya bisa menerima latihan dari dia dan yang lainnya, tapi saya tidak mau terlalu memaksa, hal itu akan terjadi apabila waktunya tiba.

Saya balik ke rumahku di kota Tours, 220Km dari Lisses dan mulai latihan sendiri, berusaha berlatih sedekat dekat mungkin dengan methode Lisses. Saya ikuti program latihan yang mereka beri ke saya, dan sesekali, saya pergi ke Lisses untuk belajar hal-hal baru.

Tapi perlahan-lahan, sesuatu berubah di Lisses. Beberapa perdebatan bodoh membagi kelompok mereka, dan lingkungan yang hebat itu berubah menjadi cuaca yang pahit bermasalah. Mungkin itulah sebabnya saya mengambil jarak untuk sesaat, untuk mencari tantangan di daerah lain. Saya rindu sekali dengan lingkungan yang hebat itu…
Tak ada bullshit [omongkosong], sikap-sikap palsu, tak ada rencana anjing yang melibatkan uang…

Hanya sekelompok teman, dengan baju berlobang dan tangan yang kotor, berlatih sampai mampus bersama dengan jiwa yang baik. Beberapa orang di Lisses masih punya jiwa ini, tapi tetap saja ada yang tetap berbeda.

Saya merasa jauh dari hal-hal yang terjadi di hari ini: masalah freerunning lah, kompetisi lah, bisnis…

Ini sangatlah jauh dari parkour yang seharusnya…Tapi terkadang, saya sangat senang untuk bertemu dengan orang-orang yang masih berbagi jiwa hebat itu, walau pun mereka baru mulai latihan parkour beberapa tahun atau kurang.

Mungkin saya salah waktu memulai article ini. Mungkin, Parkour masihlah latihan underground kecil-kecilan sama seperti dulu, mungkin parkour memang cara berpikir yang bersih yang hanya sedikit orang mengerti, dan yang lainnya hanyalah kotoran yang tertumpuk disekelilingnya.

Jangan salah mengerti, saya tidak mau menentang siapa-siapa. Kalau kamu mau buat parkour jadi sebuah kompetisi, kalau mereka mau membuat gerakan-gerakan skateboard yang gila, kalau mereka mau menjual gadget parkour, ya terserah mereka. Sukses untuk semuanya.

Tapi saya tidak bakal mengambil bagian dari hal-hal demikian. Motif saya sangat berbeda : bukan yang terbaik atau yang terjelek, Motif saya, ya saya yang punya…motif yang dekat dengan kejiwaan yang saya temukan di Lisses beberapa tahun lalu.

Oleh Thomas Couetdic memories-of-early-parkour-experiences
Terjemah oleh emon (Edmund) dan Editorial oleh Bullseye (Fadly)

Artikel ini ditulis oleh Thomas Couetdic, salah satu didikan kebanggaan David Belle. Thomas pernah melakukan petualangan dengan bersepeda dari Perancis menuju Italia. Dan Thomas akan diajak oleh David Belle dan film terbarunya yg akan ditayangkan akhir tahun ini.

Berbagi:
  • Facebook
  • Digg

Tags: , , , , , ,
Posted in Artikel | 1 Comment »
  1. 1 Trackback(s)

  2. Jun 10, 2008: 2 Artikel Terjemahan Terbaru Lagi | Komunitas Parkour Indonesia

Sorry, comments for this entry are closed at this time.