Tiga Nama Satu Akar
Written by bullseye on March 19, 2010 – 3:44 am -Melihat banyaknya terjadi argumen di sana sini mengenai berbagai disiplin dari seni bergerak asal Perancis yang kami yakini ini, maka saya mencoba untuk ambil bagian dalam argumen tersebut namun melalui pendekatan yang berbeda. Di sini saya akan mengungkapkan tentang tiga nama metode disiplin yang lahir dari hasil kreasi para pendahulu dari masing-masing disiplin tersebut. Apalagi setelah saya membaca beberapa pemikiran dari mereka yang merasa lebih bangga dengan masing-masing disiplin yang mereka pelajari.
Yang saya maksud dari tiga nama tersebut adalah Art Du Deplacement, Parkour dan Free Running. Masing-masing disiplin ini menuntut sebuah ketekunan kerja keras serta pemahaman yang baik dari masing-masing individu yang menjalaninya. Untuk itulah, saya menulis note ini untuk membuka sedikit tentang tiga disiplin yang “serupa namun tak sama” ini ke dalam sebuah wacana, sehingga semua praktisi mampu mengisi kepada orang lain dan mnyebarkannya kepada orang lain lagi. Okey kita mulai satu per satu.
Art Du Deplacement
Art Du Deplacement ini bisa dikatakan sebagai seni berpindah tempat atau seni bergerak dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan obstacles yang berada di lingkungan dengan memanfaatkan fisik dan teknik yang menerapkan semua kemungkinan menjadi suatu rangkaian, yang bertujuan untuk menciptakan gerakan keografi yang cantik dan spektakular di lingkungan urban maupun alami. Art Du Deplacement dikembangkan oleh original member dari Yamakasi yang terdiri dari sembilan orang pada awal permulaannya. Walaupun akhirnya grup ini terpecah, namun beberapa member yang tersisa seperti Laurent Pitermossi, Yann Hnautra, Chau Belle Dinh serta William Belle terus mengembangkan Art Du Placement dengan definisi dan prinsipnya tersendiri di bawah label Majestic Force. Beberapa team lain pun muncul dari seni yang berharga ini antara lain seperti Adrenaline, TCT, Dvinsk Clan, SW crew dan lain-lain.
Parkour
Parkour merupakan sebuah disiplin yang diterapkan oleh David Belle setelah meninggalkan Yamakasi. Ia menerapkan Parkour sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh ayahnya Raymon Belle mengenai pelatihan halang rintang militer untuk bergerak cepat melewati obstacles di semua lingkungan dengan gerakan yang efektif dan efisien. Parkour ditujukan untuk beradaptasi melewati rute dengan memanfaatkan kekuatan fisik dengan gerakan yang cepat tanpa kehilangan banyak energi untuk sampai tujuan. Semua gerakan parkour ditujukan agar seseorang dapat mencapai tujuan atau dapat digunakan dalam keadaan terjepit untuk melarikan diri dari kejadian tidak terduga. Parkour merupakan disiplin yang paling populer, karena prinsip moderasi atau kesederhanaan yang diterapkan oleh David Belle ke setiap sanubari praktisinya di seluruh dunia.
Free Running
Free Running adalah sebuah evolusi dari cara bergerak dan disiplin yang telah ada. Free Running merupakan kebebasan untuk seseorang bergerak dengan gerakan yang indah dan menarik sebagai bentuk kebebasan berekpresi dari setiap praktisinya. Disiplin ini dikembangkan oleh Sebastian Foucan, sahabat kecil dari David Belle sekaligus salah satu pendiri dari Yamakasi. Sebastian memasukkan unsur filosofi yang menarik dari Free Running ini yang bersifat lebih personal dibandingkan dua disiplin lainnya.
Awal Mula

Semuanya bermula dari sebuah konsep Methode Naturalle karya Georges Hebert. Methode Naturalle adalah cikal bakal dari ketiga disiplin tersebut yang diciptakan oleh Georges Hebert sebelum perang dunia pertama. Georges Hebert adalah seorang petugas angkatan laut yang suka berkelana ke seluruh bagian dunia. Saat kunjungannya ke benua Afrika, ia terkesan dengan sebuah suku primitif yang memiliki fisik serta skills yang tinggi. Mereka memiliki tubuh yang kuat, flexible, energik, dan memiliki daya tahan yang tinggi padahal mereka tidak memiliki tutor gymnastic. Akhirnya Hebert menyadari, bahwa yang membuat mereka kuat bukanlah karena mereka latihan gymnastic, melainkan karena lingkungan tempat tinggal mereka itu sendiri.
Terinspirasi dari suku tersebut, Hebert menciptakan sebuah latihan yang diberi nama Methode Naturalle sebagai metode bergerak secara alami di lingkungan sekitar. Methode Naturalle dikenal dengan moto ‘etre fort pour etre utile’ atau ‘menjadi kuat dan berguna’ dengan tujuan mulia untuk membantu diri sendiri dan orang lain dengan menggunakan kekuatan dari hasil latihannya.
Latihan ini meliputi sepuluh gerakan dasar yaitu walking, running, jumping, quadrupedal movement, climbing, balancing, throwing, lifting, self-defense, swimming. Konsep inilah yang akhirnya digunakan untuk pelatihan militer tentara Perancis di perang dunia kedua. Sampai saat ini, Methode Naturalle juga dipakai dalam pelatihan militer dan pemadam kebakaran di Perancis.
Salah satu yang mendalaminya adalah Raymond Belle, seorang tentara Perancis yang akhirnya bergabung dengan sapeurs-pompiers ( pemadam kebakaran militer). Raymond memperkenalkan pada anaknya (David Belle) tentang methode naturalle dan latihan halang rintang militer. Bersama sahabatnya Sebastian Foucan, mereka berlatih dan bermain bersama di usia 16 tahun. Pada waktu itu, mereka berdua bertemu dengan para remaja seusia mereka yang tertarik dengan apa yang mereka lakukan. Bersama-sama, mereka berlatih dan mengembangkan fisik dan teknik latihan mereka sehingga menjadi sebuah disiplin yang saat itu dikenal dengan nama “Art Du Deplacement”. Mereka terdiri dari David Belle, Sébastien Foucan, Laurent Pitermossi, Yann Hnautra, Charles Perrière, Malik Diouf, Guylain N’Guba-Boyeke, Châu Belle-Dinh, dan Williams Belle.
Pada tahun 1997, mereka akhirnya melanjutkan Art Du Deplacement yang mereka latih dengan menamakan grup mereka dengan sebutan Yamakasi. Awalnya mereka mencari kata-kata yang baik untuk menamakan grup mereka. Mereka menginginkan kata-kata Strong Man atau Strong Body namun sangat susah dan tidak nyaman bila diucapkan, khususnya dalam bahasa Perancis. Disinilah Guylain (yang menjadi Rocket di film Yamakasi) menyebutkan kata “Yamakasi” yang berasal dari bahasa Lingala (salah satu bahasa Congo, Afrika) yang memiliki arti Strong Spirit, Strong Body, Strong Man. Akhirnya mereka memulai menamakan grup mereka dengan sebutan Yamakasi.
Tahun 1998, Yamakasi unjuk gigi dengan menampilkan aksi mereka di film pendek berjudul “Le Message” yang menampilkan seni dan olahraga yang mereka lakukan. Namun setelah penampilan mereka di acara musik “Notre Dame de Paris”, David dan Sebastian mengundurkan diri dari Yamakasi karena hak pendapatan dan perbedaan pendapat dan definisi dari Art Du Deplacement tersebut. Sehingga saat film “Yamakasi” yang muncul pada tahun 2001 terus berjalan tanpa kehadiran mereka berdua.
David akhirnya menamakan seni disiplin yang dimilikinya dengan nama “Parkour”. Nama tersebut ditemukan oleh David Belle dengan temannya yang bernama Hubert Koundé. Kata Parkour itu sendiri dari kata “parcours du combattant” yang berarti pelatihan halang rintang militer yang sempat digagas Georges Hébert. Kata Parcours “c” diganti menjadi “k” dan “s”nya dipakai untuk menjelaskan filosofi Parkour itu sendiri. “Parkour’s philosophy about efficiency” . Sedangkan istilah Traceur adalah sebuah sebutan untuk para praktisi Parkour. Seseorang bisa dikatakan traceur jika orang tersebut sudah memahami arti, basic, dan filosofi dari Parkour itu sendiri. Traceur berasal dari kata “tracer” yang berarti cepat, mempercepat (to trace/ to go fast).
David dan Sebastien terus mengembangkan parkour dengan memunculkan beberapa praktisi lain yang akhirnya menjadi team, seperti Stephane Virgoux, Johann Virgoux, Sebastien Goudot, Jerome Ben Roues, Kazuma, Michael Ramdan, Rudy Cuong dengan nama “La Releve”. Team inilah yang mengembangkan parkour yang semula di Lisses yang dikenal sebagai Original Crew atau Original Traceur. Aksi mereka bisa dilihat dalam beberapa video di youtube.
Untuk memudahkan Parkour dalam bahasa yang lebih umum atau bahasa Inggris, maka Parkour juga biasa diartikan dengan sebutan Free Running. Namun di tahun 2001, perbedaan pandangan antara David Belle dan Sebastian Foucan mengenai prinsip yang harus ditanam dari displin Parkour mulai terlihat. Sehingga akhirnya Sebastian dan beberapa Original Traceur memutuskan untuk memisahkan diri mereka dari dunia disiplin Parkour.
Sebastian Foucan akhirnya menamakan disiplin yang ia bawa dengan sebutan “Free Running”. Sebastian menciptakan kosep dan kepercayaan “Follow Your Way” yang mengedepankan kebebasan bergerak dan kebebasan berekspresi. Konsep Free Running kemudian mulai mewabah daerah Inggris dengan muncul video dokumenter “Jump London” yang menampilkan Sebastian Foucan, Johann Virgoux, serta Jerome Ben Roues. Free running mengedepankan “freedom of movement” yang menampilkan gerakan-gerakan yang indah dan menarik dengan konsep kesenangan pribadi.
Free Running mungkin terlihat lebih personal dibandingkan dua disiplin lainnya. Sebastian menanamkan filosofi yang luar biasa di dalam Free Running bagi mereka yang mencintai kebebasan bergerak untuk mengembangkan dan membebaskan intuisi serta kreatifitas mereka. Free Running berdiri tanpa ada team serta leader, berdiri sebagai satu komunitas Free Running. Dengan prinsip seperti itu, maka Sebastian Foucan didaulat menjadi duta dari komunitas Free Running di seluruh dunia.
Serupa Tapi Tak sama
Ketiga disiplin ini memang terlihat sama, namun memiliki nilai dan tujuan yang berbeda. Seperti yang dikatakan Laurent Pitermossi dari Majestic Force “parkour, l’art du deplacement, freerunning, the art of movement (seni bergerak)… semuanya merupakan hal yang sama. Semua itu merupakan gerakan dan berasal dari tempat yang sama, bersumber dari sembilan orang yang sama. Hal yang paling membedakan hanyalah bagaimana cara setiap orang bergerak.” Selain itu, ditambahkan oleh komentar Adit Roar yang sempat mendapatkan sumber dari Laurent yang telah menjelaskan pengembangan dari disiplin tersebut. “Waktu umur 16 tahun, lahirlah ADD ( L’art du deplacement). Setelah lebih matang dan mulai beda pemikiran antara art yg mereka kembangkan, barulah mereka memutuskan untuk mengembangkan apa yg mereka percaya dalam diri mereka. Dan untuk membedakannya satu sama lain, mereka berniat menamainya. Disinilah sebuah bagian dimana David memilih Parkour dan Foucan memilih free running. Mereka berdua mengerti satu sama lain, karena mereka mengetahui apa rasanya menjalankan apa yang mereka yakini. Dan itu tidak bisa dirubah”.
Bila memperhatikan dengan apa yang dimaksudkan oleh Laurent, bahwa “yang membedakan bagaimana cara setiap orang bergerak”, maka hal inilah yang akhirnya membedakan beberapa disiplin tersebut. Parkour lebih mengutamakan gerakan yang efisien yang berarti “tidak buang-buang tenaga”. Hal tersebut yang ingin dipertahankan oleh David Belle untuk prinsip Parkour. Seperti yang dikatakannya “parkour merupakan sebuah seni yang dapat menolong kamu melewati berbagai rintangan dari titik A ke titik B hanya dengan menggunakan kemungkinan (kekuatan) tubuh manusia. Pahami bahwa seni ini diciptakan oleh beberapa tentara di Vietnam untuk melarikan diri atau mencapai suatu tujuan: semangat inilah yang saya inginkan tetap berada pada parkour. Kamu harus dapat membedakan antara yang penting dan tidak penting dalam situasi darurat/bahaya. Kemudian kamu akan mengetahui apakah itu parkour atau bukan. Jika kamu melakukan gerakan akrobatik di jalanan tanpa ada tujuan jelas atau hanya sekedar untuk unjuk (pamer) kemampuan, mohon jangan anggap atau katakan bahwa itu adalah parkour. Akrobatik sudah ada jauh sebelum parkour”. Parkour memiliki filosofi untuk bergerak menuju tujuan dengan melewati rintangan dengan gerakan yang efektif dan efisien sehingga prinsip ini dapat digunakan untuk melewati rintangan di rute kehidupan yang dilalui. Setiap traceur bergerak secara nyaman dan mementingkan efisiensi untuk cepat sampai di tujuan.
Sedangkan Sebastian menerapkan sebuah konsep yang menarik untuk Free Running dan setiap praktisi yang menjalani. “Freerunning adalah sebuah evolusi. Bergerak seperti binatang. Bergerak mengalir bagaikan air atau menemukan keseimbanganmu sendiri dengan sebuah filosofi yang benar. Ini adalah bagian dari Free runner. Fokuslah dengan apa yang ada di dalam dirimu melebihi yang ada di luar sana”. Free running lebih bersikap individu yang bergerak untuk menujukkan yang namanya “Kebebasan Bergerak”. Sebastian memberikan filosofi yang berbeda dengan parkour. Bila di Parkour memiliki prinsip bergerak secara nyaman dan mementingkan efisiensi untuk cepat sampai di tujuan, maka Sebastian memiliki pemikiran yang berbeda. Baginya, bukan bagaimana cara cepat sampai di tempat tujuan, yang terpenting baginya adalah bagaimana proses mencapai tujuan tersebut. Maka disinilah Freerunning bergerak tanpa ada point a dan point b. Bergerak sesuka hati dengan gerakan yang enak untuk dilihat dan lebih spektakular. “Untuk apa hanya melompat ke depan kalau bisa melompat dengan cara yang lebih indah dan menarik”.
Disinilah terlihat apa yang membedakan dari setiap masing-masing nama disiplin tersebut. Semua tertuju pada satu sumber, namun dengan pengembangan pemikiran seiring dengan cara berpikir masing-masing founder.
Sebuah Keputusan dan Kesimpulan
Apa yang bisa saya ambil dari semua ini? Apa yang bisa diambil dan diserap oleh semua prkatisi yang membaca note ini? Argumen berkepanjangan antara masing-masing disiplin justru yang akan membuat otak, hati dan tubuh kita tertahan untuk tidak berlatih. Hal inilah yang dimaksudkan oleh Dan Edwardes dari Parkour Generation. Sibuk memperdebatkan mana yang benar dan mana yang salah membuat kita tidak mau menghormati sistem latihan kita masing-masing dan menghormati sistem latihan disiplin lainnya. Yang penting adalah, kita semua harus bisa menempatkan diri sesuai yang kita pahami.
Bila anda tertarik dan merasa nyaman dengan Art Du Deplacement dan metodenya, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip dan metode yang diterapkan. Bila anda tertarik dan merasa nyaman dengan Parkour dan metodenya, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip dan metode yang diterapkan. Begitu pula dengan Free Running. Merasa lebih nyaman dengan Free Running, maka berlatihlah dan pahami semua prinsip, filosofi dan metode yang diterapkan.
Disini saya berbicara sebagai praktisi yang memilih Parkour sebagai disiplin karena saya bergabung dengan “Forum Parkour Indonesia”. Maka metode serta filosofi yang saya ambil dan saya latih adalah parkour. Begitu pula dengan anda yang merasa membawa nama parkour di keseharian ada mulai dari bergabung dengan parkour Indonesia serta memakai pernak-pernik parkour, maka berlatihlah parkour dengan baik sesuai dengan metode yang diterapkan dalam sebuah komunitas di mana anda berada. Semua metode latihan di setiap daerah tentunya sangat berbeda, namun mempunyai disiplin yang sama yang sesuai dengan metode latihan yang sesungguhnya.
Namun bila ada yang tertarik dengan dua bentuk latihan lainnya seperti Art Du Deplacement dan Free Running, maka bentuklah kepribadian dirimu sesuai dengan disiplin yang kamu pilih dan terapkan filosofinya dalam kehidupan. Kita akan berlatih bersama dan saling mendukung dan menghormati satu sama lain tanpa melukai masing-masing disiplin. Karena tiga nama yang terlampir disini merupakan memiliki satu akar yang sama dari tempat dan sumber yang sama.
Fadly Bullseye
Sumber ;
Wikipedia
Art Du Depalcement http://www.majesticforce.com
Sebastian Foucan – Freerunning Ambassador http://www.foucan.com/?page_id=65
David Belle Parkour Official Blog http://www.sportmediaconcept.com/parkour/
David Belle and Parkour World Association http://web.archive.org/web/200505080214 … lcome.html
http://www.parkourgeneration.com
video-video dokumenter
dan berbagai sumber lainnya
Perspektif dan nasehat seorang wanita tentang parkour
Written by bullseye on February 17, 2010 – 2:35 pm -Parkour dalam esensinya, adalah sebuah seni bergerak : sebuah disiplin dimana kita bergerak secara cepat dan efisien dalam mengatasi rintangan, bergerak dari titik A ke titik B. Tidak ada kekurangan inspirasi dari semua traceur elite di seluruh dunia, dan yang paling terkenal dari pendiri David Belle. Bagaimanapun, jumlah dari praktisi wanita dalam disiplin ini, walaupun meningkat, tapi masih cenderung kecil. Artikel singkat ini bertujuan untuk memberikan beberapa masalah yang mungkin dihadapi para wanita ketika memulai Parkour dan memberikan beberapa saran/solusi umum kepada seluruh traceuse/praktisi wanita diluar sana.
The art of escape / Seni melarikan diri
Parkour memperbaiki refleks dan kesadaran fisik. Parkour mempunyai potensi sebagai bentuk terbaik self-defense yang bisa dimiliki semua wanita ketika berjalan atau berlari sendirian, karena praktisi Parkour yang terlatih akan mempunyai banyak pilihan yang terbuka ketika keadaan tidak menguntungkan seperti ketika diserang atau dikejar. Dalam keadaan seperti ini, rintangan seperti tembok-tembok, gerbang, dan rail tidak akan menjadi hambatan bagi traceuse, tapi akan menjadi rute-rute untuk melarikan diri.
Preparation / Persiapan
Seperti halnya seni beladiri, Parkour memerlukan dedikasi dari para pelajarnya. Bagaimanapun memakai pakaian yang tidak menghambat gerakan dan sepatu yang mempunyai cengkeraman yang baik akan memastikan bahwa fokus anda adalah murni dalam kinerja anda dan bukan pada peralatan anda.
Problems encountered /Masalah-masalah yang dihadapi
Meskipun menjadi seorang wanita membawa keuntungannya tersendiri, dimana ada beberapa faktor yang jelas yang harus diperhatikan oleh para wanita: terutama fakta bahwa para lelaki biasanya mempunyai kekuatan bagian atas tubuh yang lebih dari pada para wanita. Ini berarti menarik berat badan sendiri bagi para wanita akan lebih sulit/menantang dan tentunya akan sangat melelahkan tanpa pengkondisian yang cukup. Jadi, ketika seorang wanita memulai untuk berlatih Parkour, gerakan-gerakan yang memerlukan penggunaan kekuataan tubuh bagian atas terbukti akan lebih sulit. Contohnya ketika melakukan “climb up” setelah ‘saut de bras’(cat leap) dan ‘passe-muraille’ (melewati tembok-tembok, dimana untuk tembok yang lebih tinggi/besar melibatkan daya dorong ke atas tembok untuk membantu memanjatnya). Dengan masalah seperti ini, adalah sebuah ide yang bagus melatih kekuatan tubuh bagian atas dengan latihan di rumah atau di gym.
Perbedaan-perbedaan lain yang harus dipertimbangkan adalah bahwa para lelaki tidak mudah untuk memar, tidak terlalu memperhatikan cedera kecil di bagian badan dan mempunyai sendi-sendi yang lebih cocok untuk kekuatan. Namun, ini tidak berarti bahwa secara potensi para wanita tidak mampu.
Advantages of the female build / Keuntungan dari tubuh wanita
Dimana ada kelemahan, disana juga ada keuntungan menjadi wanita. Yang paling terlihat, wanita mempunyai kelenturan natural yang lebih hebat daripada para lelaki, ini berarti lebih banyak penambahan pada sendi-sendi dan otot tanpa adanya cedera. Dengan tubuh yang lebih kecil juga bisa terbukti berguna dalam gerakan-gerakan tertentu, seperti berlari dan melompat melewati ruang yang kecil dengan cepat.
Heightened awareness regarding injury / Meningkatkan kesadaran ketika cedera
Masalah yang harus digarisbawahi ketika memulai Parkour, tanpa melihat masalah gender, adalah bagaimana untuk menghindari cedera. Melakukan streching sebelum dan setelah sesi latihan Parkour adalah sangat penting dan akan mengurangi kemungkinan cedera pada otot sebelum cedera dan menghilangkan asam lactic setelah berlatih (adalah asam lactic dalam otot yang menyebabkan kesakitan di hari berikutnya). Saya merekomendasikan melakukan strecthing selama 15 s/d 20 menit sebelum memulai latihan dan 10 menit setelah selesai latihan.
Bagaimana anda mendarat adalah hal yang sangat penting dalam Parkour, dan beberapa gerakan dasar yang harus dilatih seperti rolling ketika kita turun dari ketinggian dan mendarat pada landasan yang lebih kecil. Pendaratan yang baik akan mencegah sakit pada lutut dan betis dan dalam jangka panjang akan melindungi sendi-sendi anda dari cedera.
Fears / Ketakutan
Setiap orang mengalami ketakutan pada titik tertentu ketika berlatih Parkour. Tubuh kita mempunyai mekanisme keselamatan alami yang mencegah kita dari mencederai diri sendiri dan seperti yang anda bayangkan, berlari dan melompat melewati/ke arah dalam/kea rah atas objek-objek dan untuk memulainya dirasakan bukan sebuah tindakan yang wajar/natural. Oleh karena itu, pada awalnya, para praktisi mempunyai ketakutan-ketakutan untuk diatasi. Dengan berlatih, kepercayaan pun tumbuh; sangatlah penting bahwa anda mendorong tubuh anda sejauh mungkin untuk bisa merasakan kepercayaan bahwa anda bisa melakukannya dan jangan pernah membiarkan siapapun membuat anda merasa terpojok untuk mencoba sesuatu yang anda sendiri belum yakin bahwa anda siap untuk melakukannya. Selalu akan ada lain hari untuk mendorong level anda dan menghadapi ketakutan-ketakutan anda.
Progression / Kemajuan
Bukanlah sesuatu yang tidak wajar dalam Parkour untuk melewati fase-fase dalam latihan anda, dimana kemajuannya terasa lambat dan kemudian semakin cepat. Ini muncul karena akan membutuhkan waktu untuk pikiran anda untuk mengimbangi kemampuan fisik anda. Kemampuan badan anda mungkin telah berkembang kepada titik dimana anda sadar bahwa anda mampu untuk menghadapi obstacle-obstacle yang lebih menantang atau teknik yang lebih sulit. Namun, bagian paling sulit dalam kemajuan adalah mengaParkour dalam esensinya, adalah sebuah seni bergerak : sebuah disiplin dimana kita bergerak secara cepat dan efisien dalam mengatasi rintangan, bergerak dari titik A ke titik B. Tidak ada kekurangan inspirasi dari semua traceur elite di seluruh dunia, dan yang paling terkenal dari pendiri David Belle. Bagaimanapun, jumlah dari praktisi wanita dalam disiplin ini, walaupun meningkat, tapi masih cenderung kecil. Artikel singkat ini bertujuan untuk memberikan beberapa masalah yang mungkin dihadapi para wanita ketika memulai Parkour dan memberikan beberapa saran/solusi umum kepada seluruh traceuse/praktisi wanita diluar sana.
The art of escape / Seni melarikan diri
Parkour memperbaiki refleks dan kesadaran fisik. Parkour mempunyai potensi sebagai bentuk terbaik self-defense yang bisa dimiliki semua wanita ketika berjalan atau berlari sendirian, karena praktisi Parkour yang terlatih akan mempunyai banyak pilihan yang terbuka ketika keadaan tidak menguntungkan seperti ketika diserang atau dikejar. Dalam keadaan seperti ini, rintangan seperti tembok-tembok, gerbang, dan rail tidak akan menjadi hambatan bagi traceuse, tapi akan menjadi rute-rute untuk melarikan diri.
Preparation / Persiapan
Seperti halnya seni beladiri, Parkour memerlukan dedikasi dari para pelajarnya. Bagaimanapun memakai pakaian yang tidak menghambat gerakan dan sepatu yang mempunyai cengkeraman yang baik akan memastikan bahwa fokus anda adalah murni dalam kinerja anda dan bukan pada peralatan anda.
Problems encountered /Masalah-masalah yang dihadapi
Meskipun menjadi seorang wanita membawa keuntungannya tersendiri, dimana ada beberapa faktor yang jelas yang harus diperhatikan oleh para wanita: terutama fakta bahwa para lelaki biasanya mempunyai kekuatan bagian atas tubuh yang lebih dari pada para wanita. Ini berarti menarik berat badan sendiri bagi para wanita akan lebih sulit/menantang dan tentunya akan sangat melelahkan tanpa pengkondisian yang cukup. Jadi, ketika seorang wanita memulai untuk berlatih Parkour, gerakan-gerakan yang memerlukan penggunaan kekuataan tubuh bagian atas terbukti akan lebih sulit. Contohnya ketika melakukan “climb up” setelah ‘saut de bras’(cat leap) dan ‘passe-muraille’ (melewati tembok-tembok, dimana untuk tembok yang lebih tinggi/besar melibatkan daya dorong ke atas tembok untuk membantu memanjatnya). Dengan masalah seperti ini, adalah sebuah ide yang bagus melatih kekuatan tubuh bagian atas dengan latihan di rumah atau di gym.
Perbedaan-perbedaan lain yang harus dipertimbangkan adalah bahwa para lelaki tidak mudah untuk memar, tidak terlalu memperhatikan cedera kecil di bagian badan dan mempunyai sendi-sendi yang lebih cocok untuk kekuatan. Namun, ini tidak berarti bahwa secara potensi para wanita tidak mampu.
Advantages of the female build / Keuntungan dari tubuh wanita
Dimana ada kelemahan, disana juga ada keuntungan menjadi wanita. Yang paling terlihat, wanita mempunyai kelenturan natural yang lebih hebat daripada para lelaki, ini berarti lebih banyak penambahan pada sendi-sendi dan otot tanpa adanya cedera. Dengan tubuh yang lebih kecil juga bisa terbukti berguna dalam gerakan-gerakan tertentu, seperti berlari dan melompat melewati ruang yang kecil dengan cepat.
Heightened awareness regarding injury / Meningkatkan kesadaran ketika cedera
Masalah yang harus digarisbawahi ketika memulai Parkour, tanpa melihat masalah gender, adalah bagaimana untuk menghindari cedera. Melakukan streching sebelum dan setelah sesi latihan Parkour adalah sangat penting dan akan mengurangi kemungkinan cedera pada otot sebelum cedera dan menghilangkan asam lactic setelah berlatih (adalah asam lactic dalam otot yang menyebabkan kesakitan di hari berikutnya). Saya merekomendasikan melakukan strecthing selama 15 s/d 20 menit sebelum memulai latihan dan 10 menit setelah selesai latihan.
Bagaimana anda mendarat adalah hal yang sangat penting dalam Parkour, dan beberapa gerakan dasar yang harus dilatih seperti rolling ketika kita turun dari ketinggian dan mendarat pada landasan yang lebih kecil. Pendaratan yang baik akan mencegah sakit pada lutut dan betis dan dalam jangka panjang akan melindungi sendi-sendi anda dari cedera.
Fears / Ketakutan
Setiap orang mengalami ketakutan pada titik tertentu ketika berlatih Parkour. Tubuh kita mempunyai mekanisme keselamatan alami yang mencegah kita dari mencederai diri sendiri dan seperti yang anda bayangkan, berlari dan melompat melewati/ke arah dalam/kea rah atas objek-objek dan untuk memulainya dirasakan bukan sebuah tindakan yang wajar/natural. Oleh karena itu, pada awalnya, para praktisi mempunyai ketakutan-ketakutan untuk diatasi. Dengan berlatih, kepercayaan pun tumbuh; sangatlah penting bahwa anda mendorong tubuh anda sejauh mungkin untuk bisa merasakan kepercayaan bahwa anda bisa melakukannya dan jangan pernah membiarkan siapapun membuat anda merasa terpojok untuk mencoba sesuatu yang anda sendiri belum yakin bahwa anda siap untuk melakukannya. Selalu akan ada lain hari untuk mendorong level anda dan menghadapi ketakutan-ketakutan anda.
Progression / Kemajuan
Bukanlah sesuatu yang tidak wajar dalam Parkour untuk melewati fase-fase dalam latihan anda, dimana kemajuannya terasa lambat dan kemudian semakin cepat. Ini muncul karena akan membutuhkan waktu untuk pikiran anda untuk mengimbangi kemampuan fisik anda. Kemampuan badan anda mungkin telah berkembang kepada titik dimana anda sadar bahwa anda mampu untuk menghadapi obstacle-obstacle yang lebih menantang atau teknik yang lebih sulit. Namun, bagian paling sulit dalam kemajuan adalah mengatasi ketakutan-ketakutan anda, tidak perduli semampu apa anda. Saat-saat seperti ini bisa membuat anda sangat frustasi, Tapi bagaimanapun, dengan melatih mental dan tidak memperlambat latihan anda, hal ini akan bisa diatasi relatif lebih cepat.
Artikel ditulis oleh Liv Rowlans aka Flame
Original Posted by Adit Riar at www.parkourindonesia.web.id/forum
Translated by : Ullie Mahardi (Parkour Bandung)
MFoto : Tracey Tiltman. Parkour Generationtasi ketakutan-ketakutan anda, tidak perduli semampu apa anda. Saat-saat seperti ini bisa membuat anda sangat frustasi, Tapi bagaimanapun, dengan melatih mental dan tidak memperlambat latihan anda, hal ini akan bisa diatasi relatif lebih cepat.
The Spirit of Altruism (Semangat Dari Altruisme)
Written by bullseye on January 17, 2010 – 7:44 pm -Altuarisme : sifat mementingkan kepentingan orang lain
Mengamati perkembangan dunia dan cerita-cerita yang kemudian mewarnai dan menginspirasi banyak orang, saya teringat pada tokoh-tokoh yang menjadi idola saya sewaktu kecil. kisah petualangan Huckleberry finn, keberanian Tom Sawyer, ketabahan Oliver Twist, Old Shaterhand yang enviromentalis, kebiajksanaan dan wibawa Winnetou, Tintin yang pemberani,bahkan serial kartun indonesia pertama yang dulu sempat menjadi tayangan paling ditunggu2 selepas mandi sore si Huma dan Windy. Kisah-kisah yang bernafas seperti itu yang mungkin tidak pernah didengar lagi oleh anak-anak jaman sekarang. Atau masih ingatkah kita pada film Zorro yang diperankan oleh Douglas Fairbank?
Pada zaman saya kecil, cerita-cerita seperti itu menjadi cerita masa kecil yang fantastis dan secara tanpa sadar masih terbawa sampai sekarang. Ingatan-ingatan petualangan Huckleberry Finn mengeksplorasi alam di sekitarnya, semangat pertemanan dan persahabatan yang diusung dalam cerita-cerita Old Shaterhand dan Winnetou ,kesabaran menghadapi ujian dan kebencian orang lain yang ditunjukan Oliver Twist, keberanian Tintin menantang ketidak adilan, serta semangat tolong-menolong yang dicontohkan si Huma dan sahabatnya si Windy. Saya sadari betapa pada zaman-zaman tersebut begitu banyak tulisan, cerita dan film yang sangat bermutu dan berpengaruh besar terhadap perkembangan jiwa seseorang. Beruntunglah saya termasuk orang yang diperkenalkan pada cerita-cerita itu sewaktu kecil lewat dongeng-dongeng malam sebelum tidur.
Semangat-semangat seperti itu pada dasarnya semangat instingtif sesorang sebagai salah satu bentuk aktualisasi dan eksistensi individu. Jujur saja beberapa dari kita pasti pernah bercita-cita menjadi seperti Robin Hood, Zorro, Spiderman, Batman, Superman, atau beberapa teman kemudian memilih untuk menjadi seorang wartawan seperti halnya Tintin, atau petualang yang hidup di pedalaman bersama suku terasing karena terinspirasi Old Shaterhand. Sebuah kesadaran ingin bermanfaat dan berguna karena adanya sebuah stimulan dari lingkungan yang secara tidak langsung memberikan format karakter seseorang karena bahan asupan yang kemudian menjadi behavior atau sikap. Dan jujur secara statistik tidak dapat dibuktikan di atas kertas…bahwa sikap heroik dan kepahlawanan pada dasarnya dimiliki oleh setiap orang.
Altruisme. Sebuah sikap tidak mementingkan diri sendiri sebagai negasi dari sikap egoisme, sebenarnya sebuah nilai dasar yang diusung oleh banyak tradisi dan bahkan juga agama. Sikap altruis ini muncul biasanya karena keterpanggilan atas sebuah tanggung jawab moral, bisa karena sebuah habit ataupun kedudukan atau kemampuan seseorang. Teringat pada kalimat Ben Parker dalam Spiderman 1,” behind a great power there’s a great responsibility”… secara tidak langsung memberikan sebuah ketegasan tentang efisiensi dan efektifitas dari kapasitas seseorang… “apa yang anda miliki, lakukan dan berdampak, memiliki sebuah petanggung jawaban pada saatnya”
Georges He’bert (lahir 27 April 1875di Paris – wafat2 August 1957di Tourgéville, Calvados) seorang guru pendidikan jasmani dari Perancis menyadari hal tersebut, sehingga kemudian menjadikan ethos ini menjadi motto pribadi,”e’tre fort pour e’tre utile”…”being strong to be usefull”, menjadi lebih kuat (lebih baik) untuk dapat menjadi berguna. Motto yang kemudian sampai sekarang menjadi motto kolektif bagi para praktisi disiplin yang menerapkan pola He’rbetian dengan diperkenalkannya “Parkour” oleh David Belle..
Dari sekian cerita-cerita yang mengisi masa kecil saya, ada satu cerita lagi yang kemudian mengisi masa dewasa saya dengan fantasi yang lebih realistik dari pada masa kecil yang mengangankan menjadi Superman, Batman, Spiderman, Zoro, Robin Hood, Tintin, Old Shaterhand, atau pun lain sebagainya. Kita yang mulai dewasa sudah faham mana yang mungkin dan mana yang tidak mungkin dilakukan. Jika anda termasuk orang yang pernah mengalami benjol, patah tulang atau rontok gigi sewaktu kecil karena pernah mencoba terbang seperti superman atau batman pasti pada akhirnya faham bahwa impian menjadi pahlawan hanya ada dalam komik atau film saja, sehingga kompensasinya adalah minimal menjadi pahlawan buat orang-orang terdekat saja semisal, adik, kekasih, istri, anak, keluarga, teman dan orang2 yag masih bisa anda tolong dalam bentuk yang lain. Menjadi pahlawan sesungguhnya dalam bentuk yang konkkrit, kondisi dan situasi yang realistis adalah sebuah bentuk realisasi pemahaman dari semangat altruisme. Etos ini pada dasarnya dimiliki setiap orang, bahkan yang menurut orang bilang ,penjahat atau sekelas bajingan pun. Masalahnya adalah kesadaran dan pembiasaan. Cerita Samurai era Modern “Yamakasi” memberikan saya sebuah fantasi yang realistik tentang menjadi seorang pahlawan dan kebermanfaatan dari kemampuan yang dimiliki seseorang.
Cerita yang disutradai Ariel Zeiton ini memberika sebuah gambaran tentang tanggung jawab atas dampak dari apa yang setiap orang lakukan. Parkour yang diperkenalkan disini memberikan sebuah pemahaman bahwa menjadi pahlawan membutuhkan proses panjang. Bahkan tanggung jawab moralnya adalah apa yang kita lakukan pun memiliki dampak buat orang lain, tidak hanya positifnya saja tapi juga negatifnya. Tanpa kehati-hatian dan kebijaksanaan kemampuan sebesar apapun membahayakan, tidak hanya diri sendiri bahkan orang lain. Dalam cerita tersebut diceritakan seorang anak penggemar grup Yamakasi kemudian mencontoh apa yang dilakukan sehingga terjatuh dan mengalami kegagalan jantung. Hal ini menyadarkan semua anggota Yamakasi bahwa apa yang mereka lakukan sebagai sebuah sebuah kesenangan dan pencapaian pribadi tetap memiliki sebuah tanggung jawab moral bagi orang lain. Memberikan sebuah penyadaran pada orang lain bahwa pencapaian sesorang tidak bisa diukur dari hasil tapi dari proses.
Sebuah fenomena yang kemudian berkembang ketika parkour menjadi sebuah urban trend, banyak orang cedera karena ingin mencoba menjadi seseorang yang dia lihat di video-video yang dia lihat tanpa melihat proses panjang untuk mencapai kesana…padahal apa yang diusung dan diajarkan oleh Parkour adalah menjadi diri sendiri, menjadi pahlawan dengan cara anda sendiri. David Belle tidak menjadikan orang2 yang berlatih bersamanya untuk menjadi seperti dirinya atau mengikuti gayanya, tapi memberikan sebuah gambaran tentang prosesnya. Pada setiap latihannya, Stephane Vigroux selalu mengatakan, “you may follow my route, but you don’t have to move exactly like i do, just move as your own way…”
Mampu meakukan gerakan2 vaulting atau lain sebagainya bukan sebuah ciri yang merepresentasikan anda seorang traceur/traceuse…karena mampu melakukan vaulting apalagi flip bukanlah parkour itu sendiri, tetapi sikap dan keseharian anda yang menunjukan apakah anda seorang traceur/traceuse atau bukan…
Altruisme adalah akar semangat munculnya motto “e’tre fort pour e’tre utile”, BEING STRONG TO BE USEFULL. Rosul Muhammad SAW mengatakan,”manusia selamat yang paling sejati kekuatannya setara 20 orang biasa dan muslim sejati adalah yang bermanfaat untuk seluruh alam”…
Menjadi Pahlawan adalah sebuah proses panjang, pahlawan sejati tak mengenal umur. Semangat mereka tak pernah mati,” pour e’tre durer…”. Wahai para calon Pahlawan….berlatihlah terus….
“PRACTICES FOR YOURSELF AND BE STRONG FOR OTHERS…”
(inspired by: The Great Inoman).
By : Alex Atmadikara. Parkour Sukabumi
Sebuah Metamorfosis
Written by bullseye on January 8, 2010 – 10:09 am -
Mengutip kalimat Sam Parham dalam videonya “Poetry in Motion”, saya diingatkan bahwa betapa hidup dibentangkan untuk kita seperti karpet merah sebagai sebuah penghormatan atas segala pilihan yang kita tetapkan. Ini yang kemudian menjadi motivasi besar untuk saya kembali membenahi dan menata kesiapan diri atas kesempatan-kesempatan besar yang mungkin akan muncul, penghormatan gelar karpet merah atas waktu dan karya terbaik kita.
Begitu banyak kesempatan dan hal terbaik dalam hidup saya yang kemudian teringatkan kembali: Tuhan, Kepercayaan, keluarga, sahabat, teman, pekerjaan, hobby, bahkan masalah dan kesulitan-kesulitan yang pernah dilewati pun baik yang besar dan yang kecil, kemudian menjadi hal terbaik dalam hidup saya sekarang. Itulah karpet merah yang kemudian terbentang setelah tuntas sekuen demi sekuen dalam kehidupan, suka duka, tangis tawa, sedih gembira…dan semuanya bermuara pada sebuah pencapaian diri yang hanya diri kita sendiri yang mampu memaknai dan menerjemahkannya sebagai sebuah bentuk karya terbaik dalam kehidupan.
Mengenal Parkour adalah salah satu kesempatan terbesar saya berikutnya yang kemudian semakin menguatkan kesadaran saya atas ikatan pada hal-hal terbaik dalam hidup. Seperti banyak pengalaman lain yang mengajarkan banyak hal pula dalam hidup saya. Banyak usaha yang dicoba, bermacam langkah untuk bermacam tujuan, banyak pula bermacam kegagalan, bermacam pengulangan, dan banyak juga keberhasilan yang memberikan rasa bangga yang individual dan mungkin tidak dapat dirasakan oleh orang lain.
Lima tahun bekerja sebagai seorang pendidik di sebuah Boarding School dan pengalaman bekerja sebagai instruktur untuk kegiatan outdoor training, mengajarkan saya untuk terus berkembang dan mengembangkan keterampilan pribadi secara soft skill, hard skill dan satu lagi keterampilan yang hanya dapat diperoleh dari jam terbang dan percepatan refleksi untuk berbagai macam situasi dan kondisi yang menuntut berpikir dan bertindak kritis, yaitu “metaskill”.
Sebagai agen perubahan, menyitir kalimat Mahatma Gandi,” you must be the changes you wish to see in the world…”, saya banyak merenungi kalimat tersebut dalam-dalam. Jika ingin memberi perubahan yang berarti pada dunia, bukan hanya dengan kata-kata dan kritik pedas pada dunia dengan cacian kekesalan pada sesuatu yang tidak tepat. Karena kemudian semuanya akan berpulang pada diri kita sendiri. Sejauh manakah kontribusi kita pada perubahan dunia?
Mulailah saya melakukan metamorfosis saya sendiri dengan merancang dan menata ulang semua mindsetting saya, ke arah yang lebih baik dan positif tentunya. Contoh kecil, saya memulai membuang sampah secara terpisah dan manjadikan saku celana saya sebagai tempat sampah sementara sejak duduk di bangku kuliah, minimal sekarang istri saya sudah mengikutinya, malah dia yang jadi cerewet soal urusan sampah, memulai merencakan segala sesuatu dengan diagram dan mapping (saya termasuk orang yang impulsif sehingga kadang-kadang cara berpikir saya random dan kurang sistematis, senior saya yang merupakan instruktur ahli di outdoor training selalu mengingatkan tentang hal tersebut).
Sebelum ini saya tak pernah benar-benar punya target dalam hidup… salah kaprah menerapkan istilah “mengalir seperti air”. Sampai kemudian saya diingatkan oleh prinsip konyol yang dicetuskan seorang teman yang kebetulan pernah menjadi murid saya di SMA tempat saya mengajar, “hidup itu mending mengalir sepertii e’e’ (maaf:tinja)”. Karena tinja yang mengalir yang mengikuti aliran air tidak akan hancur. Saya sempat terbahak mendengarnya. Tapi kemudian terhenyak, jika kemudian kesalahkaprahan saya menerjemahkan istilah “mengalir seperti air” dengan tidak punya target dalam hidup telah membuat saya terbelakang dan terbutakan dengan cara pikir yang santai dan cenderung mandeg. Karena kemudian air tidak pernah benar-benar mandeg ketika ia menemukan hambatan di depannya. Ia selalu mencari celah lain atau merembes hanya untuk meneruskan targetannya kembali ke bumi dan mengalir ke sungai terus…terus… dan terusss…ke muara.. ke laut.
Kemudian salah seorang murid saya mengenalkan saya pada ‘parkour’ lebih dalam pada tahun 2007 awal. Sebelumnya saya hanya tahu film yamakasi dan film itu pula yang pernah menginspirasi saya melakukan banyak kekonyolan,bersama beberapa alumni yang sudah lulus pernah berlatih bersama tanpa tahu apa itu namanya (2006) . Tugas makalah yang saya berikan padanya kemudian menguatkan ketertarikan saya pada disiplin ini. Mulailah saya meluncur ke dunia maya yang menjadi referensi makalah tersebut. Menenggelamkan saya pada rentetan artikel dan ratusan video-video spektakuler dari para praktisi profesional. Saya masih ingat tanggalnya ketika saya mencoba melakukan rangkaian gerakan tersebut pada beberapa spot terbatas, percobaan yang membuat saya merasa sangat-sangat greenhorn.Berbekal pengalaman serta disiplin olahraga yang dulu dilakukan saja tidak cukup karena ternyata ini berbeda, satu perkataan David Belle yang selalu terngiang sampai sekarang, “Kita melakukan lompatan sejauh itu tidak seperti atlit gymnastik yang hanya mengandalkan ototnya, tapi kita melompat menggunakan pikiran”.
Ternyata semuanya tidak instant, kita bukan manusia copycat seperti di film seri heroes yang hanya dengan melihat semua video itu kemudian langsung hebat. Dan saya kembali ke internet, menemukan makin banyak referensi dan kemudian menyadari kekonyolan-kekonyolan tersebut.
Kembali pada kuadrant kedua perkembangan manusia bahwa saya kemudian sadar ternyata saya tidak tahu apa-apa. Saya mulai belajar memberikan target pada tubuh saya, yang saya rasakan kemudian sangat nyambung dengan pernyataan David Belle di atas, saya juga mulai memberi target pada pikiran saya. Kadang-kadan saya latihan sendiri dan mencoba mengalahkan semua rasa malas, sering di tengah latihan pikiran saya berkata,” cukup jangan terlalu keras…buat kamu sudah oke,kamu tak perlu seperti latihan traceur pro..” tapi saya tahu bahwa tubuh saya masih mampu. Sering juga frustasi ketika mencoba beberpa teknik yang kelihatannya gampang dan bisa dilkukan ketika latihan dengan media yang biasa, ketika dicoba pada media yang lain ternyata gagal total. Pada saat itulah kemudian pengalaman-pengalaman lama muncul dan memberikan semacam kekuatan yang inspiratif. Bahwa inilah metamorfosis saya. Sebuah media pembelajaran tentang kehidupan dalam format yang lain.
Memulai latihan yang monoton, mendulang repetisi, set, variasi dan jenis pengayaan yang sifatnya pengulangan terus menerus mungkin akan menjadi sebuah dikotomi bagi orang2 yang punya banyak kesibukan dan pekerjaan yang pada akhirnya menjadi alasan untuk melepaskan diri dan tidak melakukan hal tersebut. Tapi itulah obstacle yang sesungguhnya, hambatan-hambatan waktu, kesempatan, pekerjaan, waktu luang dan sebagainya pada dasarnya saya rasakan sebagai obstacle yang muncul dalam pikir untuk kita lewati, saya menemukan bahwa selalu ada waktu untuk melakukannya jika kita mau dan meluangkannya.
Hal ini kemudian memberikan sebuah pemahaman tentang mentalitas yang aplikatif dalam bentuk yang lain, kembali pada bahwa hidup dibentangkan bagi kita seperti karpet merah atas segala pilihan dan hal-hal terbaik yang bisa kita raih. Tidak ada istilah waktu yang terlalu singkat, ruang yang terlalu sempit, menikmati hidup adalah hak yang selayaknya kita raih dalam perjalanan yang pendek ini.saya menemukan betapa pentingnya memanfaatkan waktu berharga tersebut untuk diisi dengan hal-hal yang memberikan pengayaan secara fisik,pikir dan jiwa. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga teman, sahabat, istri, anak, keluarga serta orang-orang tercinta.
Mengalirlah, terus… menuju muara.. ke samudera. “Keep flow…keep fluid…”
“pour e’tre durer”
Sukabumi, 31 Desember 2009
Alex Atmadikara
Intelliparkour
Written by bullseye on December 1, 2009 – 9:58 am -Teman-teman jangan bingung dengan judul diatas, karena tujuan saya selain buat nangkap perhatian teman sekalian adalah untuk melakukan sebuah test. Test apa yang kira-kira saya terapin? Akan saya bongkar nanti, janji. Sekarang yuk kita lanjutin aja dulu.
Apa yang pertama kali terciprat di pikirkan saat teman-teman mendengar kata… “Intelliparkour” Keren ya. Kalau salah satunya… Intelligence in parkour berarti saya dan teman-teman sudah sepaham. Kalau ada yang mikir lebih dari ini berarti teman-teman memang jauh lebih smart dari saya. Yang pasti maksud saya bukan “mata-mata yang bisa parkour.”
Sekarang, tanpa mengabaikan aspek filosofi maupun teknis dari aktivitas luar biasa ini ayo kita liat proses yang terjadi di balik kesadaran kita waktu kita melakukan lompatan presisi itu. Kebetulan saya nggak bisa memasukkan intelligence ini ke salah satu kategori diatas (filosofi maupun teknik) dan memang saya nggak nyaranin, karena tujuan saya semata-mata hanya untuk menanamkan kesadaran berpikir atau yang disebut para ahli… AWARENESS. Hmm, mungkin psikologi kali ya… never mind!
Mulai merasa dipersulit? Stop!
Mulai dari batas ini saya akan membawa teman-teman sekalian ke tingkat pemikiran yang lebih tinggi. Saya belum menemukan konsep yang lebih sederhana dari ini. Kalau teman-teman merasa tergugah menyederhanakan, ditunggu note-nya. Tapi kalau teman-teman ingin berhenti disini, PIKIRKAN berapa banyak waktu yang udah diluangkan untuk membaca dari awal tadi? Alangkah baiknya teman sekalian lanjutkan baca, karena saya telah berpikir sekeras mungkin untuk membuat ini tetap menarik.
Seberapa Hebat Sih Anda Bisa Mikir?
Intelligence menyangkut kemampuan kita untuk mikir. Yup! Kecerdasan, yang bahasa gaulnya kehebatan mikir kita. Test istilah yang tadi di awal saya lakukan pun menyangkut kecerdasan teman-teman dalam: berbahasa/verbal/linguistik (ingat istilah ini). Susah atau gampangkah mencerna istilah intelligence in parkour? Jawab ke diri sendiri aja ya.
Biarpun yang keliatan itu parkour adalah aktivitas yang dinamis dan penuh dengan pergerakan, tapi yang sebenarnya dilakukan oleh seorang TRACEUR atau PRAKTISI PARKOUR waktu latihan bukan hanya BERGERAK: lari, lompat, manjat, berguling tapi juga BERPIKIR dan BERSOSIAL! Dan orang yang punya pemahaman yang dalam saya yakin pasti paham, sedangkan yang baru mulai pasti SEKARANG tiba-tiba sadar.
Tahukah kamu, untuk melakukan parkour butuh paling nggak 5 kecerdasan?
Dan semua kecerdasan itu yang paling dilatih adalah bodily-kinesthetic intelligence (body smart) atau kecerdasan tubuh.
“Wow, apaan itu? memangnya ada ya?”
Teori multiple intelligence ini sengaja dicetuskan oleh sahabat jauh saya Bapak Howard E. Gardner supaya saya bisa membantu pemahaman teman-teman sekalian tentang proses berpikir. By the way, saya bukan guru psikologi jadi tanpa mengurangi niat saya untuk menggantikan posisi teman-teman saya yang di jurusan psikologi… saya lanjutkan.
Apa aja sih kecerdasan yang kepake kalau kita parkour?
- Kecerdasan Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence/Bodily Smart)
Satu hal yang kita harus tau, bahwa tubuh kita atau lebih spesifiknya otot kita punya daya ingat! Itulah kenapa perlu melakukan gerakan berulang-ulang atau REPETISI. ( otot nggak benar-benar bisa mengingat, sebenarnya semua repetisi ini terekam di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya kita lakukan adalah melatih pikiran bawah sadar ini. Okey, simpelnya sebut saja tubuh yang mengingat). Proses repetisi ini sama halnya dengan menghafal pelajaran sebelum ujian semakin sering kita melakukannya semakin kuat kemampuan kita. Bosan kata teman-teman? Ya, saya juga. Tapi saya dorong diri saya dengan mencari cara untuk menjadikannya menyenangkan. Telan bulat-bulat, proses ini mutlak! Semua proses belajar adalah seperti ini, di sekolah, kuliah, termasuk profesi selain atlet, yaitu ahli bedah, penari, pengrajin. Semua wajib memiliki ketajaman kecerdasan ini. Kelebihan yang diperoleh dari kecerdasan ini: presisi, gesit, refleks, kecepatan. - Kecerdasan Membayangkan (Spatial Intelligence/Picture Smart)
Perhatikan semua perkataan para “veteran” parkour (David Belle, Chau Belle Dinh, Daniel Ilabaca): semua menyangkut imajinasi, visualisasi, membayangkan. Termasuk saat teman-teman sedang berdiri di ujung sebuah spot akan melakukan lompatan presisi. Atau akan melakuan tic-tac langsung memanjat. Bahkan untuk menulis ini pun saya membuat gambaran di kepala saya. Kemampuan ini vital kalau teman-teman ingin menjadi orang yang kreatif. Dibantu dengan kecerdasan tubuh yang terasah dalam parkour, kita bisa merealisasikan gerakan yang tadi dibayangkan dalam sekejab! - Kecerdasan Pemahaman Diri (Intrapersonal/Self Smart)
Dengan nada bicara yang sangat filosofis saya ingin bilang… “Nggak ada kebahagiaan berlatih dengan pikiran yang kacau dan perasaan desperado.” Ini adalah kecerdasan kita dalam berfilosofi, yaitu pandangan dan kepercayaan kita terhadap parkour. Termasuk didalamnya pengenalan dan evaluasi diri. Dari mana teman-teman memahami kalau teman-teman seharusnya melatih fisik sebelum mental dan teknik, atau mental sebelum fisik dan teknik? Yup, melalui EVALUASI DIRI dan mencari PEMAHAMAN UNTUK DIRI SENDIRI. Orang yang memandang parkour sebagai olahraga lompat-lompat gedung kita bisa sebut kurang interpersonalnya spesifik untuk parkour. Jadi, milikilah pikiran yang kuat dengan mempelajari filosofi yang benar. - Kecerdasan Bersosial (Interpersonal/People Smart)
Terakhir kali, dengan nada bicara yang sangat filosofis lagi saya ingin bilang… “Saya pikir nggak ada manusia yang bahagia hidup dalam kesendirian..” Kecuali teman-teman adalah orang yang sangat tertutup, pemurung, dan mellow atau latihan di tempat sunyi tanpa manusia, kalau latihan kita pasti banyak berinteraksi. Latihan parkour bukan aktivitas yang dilakukan diam-diaman. Justru butuh sangat-sangat banyak komunikasi saat latihan. Paling nggak… pasti ada yang nanya, komentar, tertawa, teriak, mengekspresikan diri. “C’mon, we’re friends here! Let’s communicate and get motivated.” - Kecerdasan Berbahasa (Verbal/Linguistic/Word Smart)
Teman-teman tau, bagaimana menggambarkan suatu gerakan parkour hanya dengan kata-kata? Kalimat apa dan kata apa yang digunakan pelatih supaya teman-teman yang diajarin bisa paham cara melakukan gerakan sederhana seperti mendarat? Istilah atau kata apa yang teman-teman pakai kalau mengajari teman yang lain? Terakhir, apa yang teman-teman ucapkan ke diri sendiri untuk tetap termotivasi?
Sederhana memang, tapi coba sadari pentingnya kemampuan ini: apa perkataanmu susah dimengerti? Atau mungkin sulit memahami ucapan orang lain? Harus diulang ngucapin sampai dua kali? Tiga kali?
Kelima kecerdasan inilah yang baiknya dimiliki oleh seorang traceur, dan INILAH PROSES YANG TERJADI DIBALIK LATIHAN ITU. Sesuai prioritas tentunya. Ini adalah kecerdasan ganda, bukan berarti teman-teman harus ahli dalam semua bidang… wow jenius! Itulah kenapa ada prioritas. Paling nggak, teman-teman melatih kemampuan ini untuk mencapai kesempurnaan diri. UNTUNGNYA, dalam parkour kita bisa melakukannya.
FYI, selain kelima kecerdasan diatas ada 3 kecerdasan lain yang mungkin relevan:
- Kecerdasan Alam (Naturalist Intelligence/Nature Smart)
- Kecerdasan Musik (Musical Intelligence/Musical Smart)
- Kecerdasan Logika (Number/Reasoning Smart)
Latihlah kemampuan fisikmu dengan repetisi dan gunakan kreatifitas supaya nggak bosan. Gunakan imajinasimu dan latihlah ia untuk menjadikanmu kreatif. Pahami dirimu dan dengarkan apa kata tubuhmu. Pahami filosofi parkour, ini lebih besar dari yang kau pikirkan. Cari, belajarlah dari, dan ajarilah sebanyak-banyaknya teman.
Josua “Grenseal” Leonard
Surabaya; 02:28AM;
Saturday, 29 November 2009




