Hi, Selamat datang di website Komunitas Parkour Indonesia ini. Jika ini kunjungan pertama kamu dan ingin selalu update tentang berita, Artikel dan lain-lain seputar Parkour di Indonesia silahkan isi kolom berlangganan disebelah kanan. Atau kamu pingin gabung dan bertanya-tanya apa syarat dan macem-macemnya silahkan kunjungi halaman F A Q.

Sebuah Metamorfosis

Written by bullseye on January 8, 2010 – 10:09 am -

Jump

Mengutip kalimat Sam Parham dalam videonya “Poetry in Motion”, saya diingatkan bahwa betapa hidup dibentangkan untuk kita seperti karpet merah sebagai sebuah penghormatan atas segala pilihan yang kita tetapkan. Ini yang kemudian menjadi motivasi besar untuk saya kembali membenahi dan menata kesiapan diri atas kesempatan-kesempatan besar yang mungkin akan muncul, penghormatan gelar karpet merah atas waktu dan karya terbaik kita.

Begitu banyak kesempatan dan hal terbaik dalam hidup saya yang kemudian teringatkan kembali: Tuhan, Kepercayaan, keluarga, sahabat, teman, pekerjaan, hobby, bahkan masalah dan kesulitan-kesulitan yang pernah dilewati pun baik yang besar dan yang kecil, kemudian menjadi hal terbaik dalam hidup saya sekarang. Itulah karpet merah yang kemudian terbentang setelah tuntas sekuen demi sekuen dalam kehidupan, suka duka, tangis tawa, sedih gembira…dan semuanya bermuara pada sebuah pencapaian diri yang hanya diri kita sendiri yang mampu memaknai dan menerjemahkannya sebagai sebuah bentuk karya terbaik dalam kehidupan.

Mengenal Parkour adalah salah satu kesempatan terbesar saya berikutnya yang kemudian semakin menguatkan kesadaran saya atas ikatan pada hal-hal terbaik dalam hidup. Seperti banyak pengalaman lain yang mengajarkan banyak hal pula dalam hidup saya. Banyak usaha yang dicoba, bermacam langkah untuk bermacam tujuan, banyak pula bermacam kegagalan, bermacam pengulangan, dan banyak juga keberhasilan yang memberikan rasa bangga yang individual dan mungkin tidak dapat dirasakan oleh orang lain.

Lima tahun bekerja sebagai seorang pendidik di sebuah Boarding School dan pengalaman bekerja sebagai instruktur untuk kegiatan outdoor training, mengajarkan saya untuk terus berkembang dan mengembangkan keterampilan pribadi secara soft skill, hard skill dan satu lagi keterampilan yang hanya dapat diperoleh dari jam terbang dan percepatan refleksi untuk berbagai macam situasi dan kondisi yang menuntut berpikir dan bertindak kritis, yaitu “metaskill”.

Sebagai agen perubahan, menyitir kalimat Mahatma Gandi,” you must be the changes you wish to see in the world…”, saya banyak merenungi kalimat tersebut dalam-dalam. Jika ingin memberi perubahan yang berarti pada dunia, bukan hanya dengan kata-kata dan kritik pedas pada dunia dengan cacian kekesalan pada sesuatu yang tidak tepat. Karena kemudian semuanya akan berpulang pada diri kita sendiri. Sejauh manakah kontribusi kita pada perubahan dunia?

Mulailah saya melakukan metamorfosis saya sendiri dengan merancang dan menata ulang semua mindsetting saya, ke arah yang lebih baik dan positif tentunya. Contoh kecil, saya memulai membuang sampah secara terpisah dan manjadikan saku celana saya sebagai tempat sampah sementara sejak duduk di bangku kuliah, minimal sekarang istri saya sudah mengikutinya, malah dia yang jadi cerewet soal urusan sampah, memulai merencakan segala sesuatu dengan diagram dan mapping (saya termasuk orang yang impulsif sehingga kadang-kadang cara berpikir saya random dan kurang sistematis, senior saya yang merupakan instruktur ahli di outdoor training selalu mengingatkan tentang hal tersebut).

Sebelum ini saya tak pernah benar-benar punya target dalam hidup… salah kaprah menerapkan istilah “mengalir seperti air”. Sampai kemudian saya diingatkan oleh prinsip konyol yang dicetuskan seorang teman yang kebetulan pernah menjadi murid saya di SMA tempat saya mengajar, “hidup itu mending mengalir sepertii e’e’ (maaf:tinja)”. Karena tinja yang mengalir yang mengikuti aliran air tidak akan hancur. Saya sempat terbahak mendengarnya. Tapi kemudian terhenyak, jika kemudian kesalahkaprahan saya menerjemahkan istilah “mengalir seperti air” dengan tidak punya target dalam hidup telah membuat saya terbelakang dan terbutakan dengan cara pikir yang santai dan cenderung mandeg. Karena kemudian air tidak pernah benar-benar mandeg ketika ia menemukan hambatan di depannya. Ia selalu mencari celah lain atau merembes hanya untuk meneruskan targetannya kembali ke bumi dan mengalir ke sungai terus…terus… dan terusss…ke muara.. ke laut.

Kemudian salah seorang murid saya mengenalkan saya pada ‘parkour’ lebih dalam pada tahun 2007 awal. Sebelumnya saya hanya tahu film yamakasi dan film itu pula yang pernah menginspirasi saya melakukan banyak kekonyolan,bersama beberapa alumni yang sudah lulus pernah berlatih bersama tanpa tahu apa itu namanya (2006) . Tugas makalah yang saya berikan padanya kemudian menguatkan ketertarikan saya pada disiplin ini. Mulailah saya meluncur ke dunia maya yang menjadi referensi makalah tersebut. Menenggelamkan saya pada rentetan artikel dan ratusan video-video spektakuler dari para praktisi profesional. Saya masih ingat tanggalnya ketika saya mencoba melakukan rangkaian gerakan tersebut pada beberapa spot terbatas, percobaan yang membuat saya merasa sangat-sangat greenhorn.Berbekal pengalaman serta disiplin olahraga yang dulu dilakukan saja tidak cukup karena ternyata ini berbeda, satu perkataan David Belle yang selalu terngiang sampai sekarang, “Kita melakukan lompatan sejauh itu tidak seperti atlit gymnastik yang hanya mengandalkan ototnya, tapi kita melompat menggunakan pikiran”.

Ternyata semuanya tidak instant, kita bukan manusia copycat seperti di film seri heroes yang hanya dengan melihat semua video itu kemudian langsung hebat. Dan saya kembali ke internet, menemukan makin banyak referensi dan kemudian menyadari kekonyolan-kekonyolan tersebut.

Kembali pada kuadrant kedua perkembangan manusia bahwa saya kemudian sadar ternyata saya tidak tahu apa-apa. Saya mulai belajar memberikan target pada tubuh saya, yang saya rasakan kemudian sangat nyambung dengan pernyataan David Belle di atas, saya juga mulai memberi target pada pikiran saya. Kadang-kadan saya latihan sendiri dan mencoba mengalahkan semua rasa malas, sering di tengah latihan pikiran saya berkata,” cukup jangan terlalu keras…buat kamu sudah oke,kamu tak perlu seperti latihan traceur pro..” tapi saya tahu bahwa tubuh saya masih mampu. Sering juga frustasi ketika mencoba beberpa teknik yang kelihatannya gampang dan bisa dilkukan ketika latihan dengan media yang biasa, ketika dicoba pada media yang lain ternyata gagal total. Pada saat itulah kemudian pengalaman-pengalaman lama muncul dan memberikan semacam kekuatan yang inspiratif. Bahwa inilah metamorfosis saya. Sebuah media pembelajaran tentang kehidupan dalam format yang lain.

Memulai latihan yang monoton, mendulang repetisi, set, variasi dan jenis pengayaan yang sifatnya pengulangan terus menerus mungkin akan menjadi sebuah dikotomi bagi orang2 yang punya banyak kesibukan dan pekerjaan yang pada akhirnya menjadi alasan untuk melepaskan diri dan tidak melakukan hal tersebut. Tapi itulah obstacle yang sesungguhnya, hambatan-hambatan waktu, kesempatan, pekerjaan, waktu luang dan sebagainya pada dasarnya saya rasakan sebagai obstacle yang muncul dalam pikir untuk kita lewati, saya menemukan bahwa selalu ada waktu untuk melakukannya jika kita mau dan meluangkannya.

Hal ini kemudian memberikan sebuah pemahaman tentang mentalitas yang aplikatif dalam bentuk yang lain, kembali pada bahwa hidup dibentangkan bagi kita seperti karpet merah atas segala pilihan dan hal-hal terbaik yang bisa kita raih. Tidak ada istilah waktu yang terlalu singkat, ruang yang terlalu sempit, menikmati hidup adalah hak yang selayaknya kita raih dalam perjalanan yang pendek ini.saya menemukan betapa pentingnya memanfaatkan waktu berharga tersebut untuk diisi dengan hal-hal yang memberikan pengayaan secara fisik,pikir dan jiwa. Tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga teman, sahabat, istri, anak, keluarga serta orang-orang tercinta.

Mengalirlah, terus… menuju muara.. ke samudera. “Keep flow…keep fluid…”

“pour e’tre durer”

Sukabumi, 31 Desember 2009

Alex Atmadikara

Intelliparkour

Written by bullseye on December 1, 2009 – 9:58 am -

Teman-teman jangan bingung dengan judul diatas, karena tujuan saya selain buat nangkap perhatian teman sekalian adalah untuk melakukan sebuah test. Test apa yang kira-kira saya terapin? Akan saya bongkar nanti, janji. Sekarang yuk kita lanjutin aja dulu.

Apa yang pertama kali terciprat di pikirkan saat teman-teman mendengar kata… “Intelliparkour” Keren ya. Kalau salah satunya… Intelligence in parkour berarti saya dan teman-teman sudah sepaham. Kalau ada yang mikir lebih dari ini berarti teman-teman memang jauh lebih smart dari saya.  Yang pasti maksud saya bukan “mata-mata yang bisa parkour.”

Sekarang, tanpa mengabaikan aspek filosofi maupun teknis dari aktivitas luar biasa ini ayo kita liat proses yang terjadi di balik kesadaran kita waktu kita melakukan lompatan presisi itu. Kebetulan saya nggak bisa memasukkan intelligence ini ke salah satu kategori diatas (filosofi maupun teknik) dan memang saya nggak nyaranin, karena tujuan saya semata-mata hanya untuk menanamkan kesadaran berpikir atau yang disebut para ahli… AWARENESS. Hmm, mungkin psikologi kali ya… never mind!

Mulai merasa dipersulit? Stop!

Mulai dari batas ini saya akan membawa teman-teman sekalian ke tingkat pemikiran yang lebih tinggi. Saya belum menemukan konsep yang lebih sederhana dari ini. Kalau teman-teman merasa tergugah menyederhanakan, ditunggu note-nya. Tapi kalau teman-teman ingin berhenti disini, PIKIRKAN berapa banyak waktu yang udah diluangkan untuk membaca dari awal tadi? Alangkah baiknya teman sekalian lanjutkan baca, karena saya telah berpikir sekeras mungkin untuk membuat ini tetap menarik.

Seberapa Hebat Sih Anda Bisa Mikir?

Intelligence menyangkut kemampuan kita untuk mikir. Yup! Kecerdasan, yang bahasa gaulnya kehebatan mikir kita. Test istilah yang tadi di awal saya lakukan pun menyangkut kecerdasan teman-teman dalam: berbahasa/verbal/linguistik (ingat istilah ini). Susah atau gampangkah mencerna istilah intelligence in parkour? Jawab ke diri sendiri aja ya.

Sekarang, kehebatan mikir bukan hanya masalah logika: “jika-maka,” perhitungan, dan berargumen. Orang yang jenius bukan diukur dari kemampuan berlogika saja. Bahkan untuk berargumen pun butuh kecerdasan berbahasa, nggak cuma logika!
Terus, apa hubungannya dengan PARKOUR ?

Biarpun yang keliatan itu parkour adalah aktivitas yang dinamis dan penuh dengan pergerakan, tapi yang sebenarnya dilakukan oleh seorang TRACEUR atau PRAKTISI PARKOUR waktu latihan bukan hanya BERGERAK: lari, lompat, manjat, berguling tapi juga BERPIKIR dan BERSOSIAL! Dan orang yang punya pemahaman yang dalam saya yakin pasti paham, sedangkan yang baru mulai pasti SEKARANG tiba-tiba sadar.

Tahukah kamu, untuk melakukan parkour butuh paling nggak 5 kecerdasan?

Dan semua kecerdasan itu yang paling dilatih adalah bodily-kinesthetic intelligence (body smart) atau kecerdasan tubuh.

“Wow, apaan itu? memangnya ada ya?”

Teori multiple intelligence ini sengaja dicetuskan oleh sahabat jauh saya Bapak Howard E. Gardner supaya saya bisa membantu pemahaman teman-teman sekalian tentang proses berpikir. By the way, saya bukan guru psikologi jadi tanpa mengurangi niat saya untuk menggantikan posisi teman-teman saya yang di jurusan psikologi… saya lanjutkan. :P

Apa aja sih kecerdasan yang kepake kalau kita parkour?

  1. Kecerdasan Tubuh (Bodily-Kinesthetic Intelligence/Bodily Smart)
    Satu hal yang kita harus tau, bahwa tubuh kita atau lebih spesifiknya otot kita punya daya ingat! Itulah kenapa perlu melakukan gerakan berulang-ulang atau REPETISI. ( otot nggak benar-benar bisa mengingat, sebenarnya semua repetisi ini terekam di pikiran bawah sadar, yang sebenarnya kita lakukan adalah melatih pikiran bawah sadar ini. Okey, simpelnya sebut saja tubuh yang mengingat). Proses repetisi ini sama halnya dengan menghafal pelajaran sebelum ujian semakin sering kita melakukannya semakin kuat kemampuan kita. Bosan kata teman-teman? Ya, saya juga. Tapi saya dorong diri saya dengan mencari cara untuk menjadikannya menyenangkan. Telan bulat-bulat, proses ini mutlak! Semua proses belajar adalah seperti ini, di sekolah, kuliah, termasuk profesi selain atlet, yaitu ahli bedah, penari, pengrajin. Semua wajib memiliki ketajaman kecerdasan ini. Kelebihan yang diperoleh dari kecerdasan ini: presisi, gesit, refleks, kecepatan.
  2. Kecerdasan Membayangkan (Spatial Intelligence/Picture Smart)
    Perhatikan semua perkataan para “veteran” parkour (David Belle, Chau Belle Dinh, Daniel Ilabaca): semua menyangkut imajinasi, visualisasi, membayangkan. Termasuk saat teman-teman sedang berdiri di ujung sebuah spot akan melakukan lompatan presisi. Atau akan melakuan tic-tac langsung memanjat. Bahkan untuk menulis ini pun saya membuat gambaran di kepala saya. Kemampuan ini vital kalau teman-teman ingin menjadi orang yang kreatif. Dibantu dengan kecerdasan tubuh yang terasah dalam parkour, kita bisa merealisasikan gerakan yang tadi dibayangkan dalam sekejab!
  3. Kecerdasan Pemahaman Diri (Intrapersonal/Self Smart)
    Dengan nada bicara yang sangat filosofis saya ingin bilang… “Nggak ada kebahagiaan berlatih dengan pikiran yang kacau dan perasaan desperado.” Ini adalah kecerdasan kita dalam berfilosofi, yaitu pandangan dan kepercayaan kita terhadap parkour. Termasuk didalamnya pengenalan dan evaluasi diri. Dari mana teman-teman memahami kalau teman-teman seharusnya melatih fisik sebelum mental dan teknik, atau mental sebelum fisik dan teknik? Yup, melalui EVALUASI DIRI dan mencari PEMAHAMAN UNTUK DIRI SENDIRI. Orang yang memandang parkour sebagai olahraga lompat-lompat gedung kita bisa sebut kurang interpersonalnya spesifik untuk parkour. Jadi, milikilah pikiran yang kuat dengan mempelajari filosofi yang benar.
  4. Kecerdasan Bersosial (Interpersonal/People Smart)
    Terakhir kali, dengan nada bicara yang sangat filosofis lagi saya ingin bilang… “Saya pikir nggak ada manusia yang bahagia hidup dalam kesendirian..” Kecuali teman-teman adalah orang yang sangat tertutup, pemurung, dan mellow atau latihan di tempat sunyi tanpa manusia, kalau latihan kita pasti banyak berinteraksi. Latihan parkour bukan aktivitas yang dilakukan diam-diaman. Justru butuh sangat-sangat banyak komunikasi saat latihan. Paling nggak… pasti ada yang nanya, komentar, tertawa, teriak, mengekspresikan diri. “C’mon, we’re friends here! Let’s communicate and get motivated.”
  5. Kecerdasan Berbahasa (Verbal/Linguistic/Word Smart)
    Teman-teman tau, bagaimana menggambarkan suatu gerakan parkour hanya dengan kata-kata? Kalimat apa dan kata apa yang digunakan pelatih supaya teman-teman yang diajarin bisa paham cara melakukan gerakan sederhana seperti mendarat? Istilah atau kata apa yang teman-teman pakai kalau mengajari teman yang lain? Terakhir, apa yang teman-teman ucapkan ke diri sendiri untuk tetap termotivasi?
    Sederhana memang, tapi coba sadari pentingnya kemampuan ini: apa perkataanmu susah dimengerti? Atau mungkin sulit memahami ucapan orang lain? Harus diulang ngucapin sampai dua kali? Tiga kali?

Kelima kecerdasan inilah yang baiknya dimiliki oleh seorang traceur, dan INILAH PROSES YANG TERJADI DIBALIK LATIHAN ITU. Sesuai prioritas tentunya. Ini adalah kecerdasan ganda, bukan berarti teman-teman harus ahli dalam semua bidang… wow jenius! Itulah kenapa ada prioritas. Paling nggak, teman-teman melatih kemampuan ini untuk mencapai kesempurnaan diri. UNTUNGNYA, dalam parkour kita bisa melakukannya.

FYI, selain kelima kecerdasan diatas ada 3 kecerdasan lain yang mungkin relevan:

  1. Kecerdasan Alam (Naturalist Intelligence/Nature Smart)
  2. Kecerdasan Musik (Musical Intelligence/Musical Smart)
  3. Kecerdasan Logika (Number/Reasoning Smart)

Latihlah kemampuan fisikmu dengan repetisi dan gunakan kreatifitas supaya nggak bosan. Gunakan imajinasimu dan latihlah ia untuk menjadikanmu kreatif. Pahami dirimu dan dengarkan apa kata tubuhmu. Pahami filosofi parkour, ini lebih besar dari yang kau pikirkan. Cari, belajarlah dari, dan ajarilah sebanyak-banyaknya teman.

Josua “Grenseal” Leonard
Surabaya; 02:28AM;
Saturday, 29 November 2009

Petunjuk Bagi Orang Tua Tentang Parkour (A Parent’s Guide To Parkour)

Written by bullseye on November 9, 2009 – 1:44 pm -

Kelihatannya berbahaya!. Ekstrem!.

Kalau dilihat pertama kali, Parkour tampaknya berada dalam kategori yang sama seperti skateboarding, snowboarding, dan olahraga lain yang tampaknya dapat menarik perhatian remaja (khususnya anak laki-laki). Dengan masih lebih mudanya parkour dikenal dibandingkan dengan kegiatan fisik lainnya, dapat dimengerti bahwa para orang tua akan ragu-ragu untuk mendukung keinginan anak-anak mereka dalam parkour.” Kenapa bukan sesuatu yang lebih “aman” seperti sepak bola atau hoki?

Meskipun dinamis, kelihatan spektakuler, Parkour sebenarnya positif dan aktivitas yang aman bagi orang-orang dari berbagai usia jika dilakukan dengan tepat. Dengan dukungan yang tepat dari orangtua dan orang dewasa lainnya yang peduli, Parkour sangat aman bagi anak-anak muda. Caranya adalah dengan mengajukan pertanyaan yang tepat dan melihat hal-hal yang tepat ketika anak Anda mengambil pelatihan parkour, sama seperti yang Anda lakukan jika anak Anda tertarik untuk mencoba hobi baru atau bergabung dengan komunitas baru.

Bagaimana untuk mendukung anak Anda.

Pertama, jangan biarkan video-video parkour menakuti Anda! Jangan menilai buku dari covernya. Ketahuilah bahwa Parkour bukanlah tentang trik semata. Parkour adalah tentang efisien, gerakan seluruh tubuh dan mengatasi rintangan. Lakukan penelitian dan mencari tahu apa parkour itu, dan pastikan anak Anda juga memahami. Jika anak Anda dipengaruhi oleh video-video yang spektakuler, maka dukunglah ketertarikannya itu, meskipun Anda mungkin tidak setuju dengan video-video tersebut. Gunakan sikap yang mendukung untuk membantu anak Anda menemukan bahwa parkour bukanlah tentang trik atau kecerobohan, tetapi adalah tentang kerja keras dan penemuan diri. Dorong anak Anda untuk belajar tentang kondisi fisik, olahraga, dan pelatihan yang aman. Bantulah mereka mencari alat untuk mengatur beberapa tujuan kebugaran dan latihan rutin. Meneliti dan belajar tentang parkour bersama-sama dapat menjadi cara yang bagus untuk memastikan bahwa anak Anda mendapatkan informasi yang benar untuk berlatih aman, dan Anda akan sepenuhnya memahami apa yang mereka geluti dengan pengejaran yang baru ditemukan ini.

Cara paling baik yang dapat membantu anak Anda berlatih parkour dengan pendekatan yang aman dan bijaksana adalah memahami perbedaan antara praktisi parkour yang serius dan orang-orang yang hanya tertarik untuk membuat video parkour di YouTube yang spektakuler. Para praktisi parkour yang serius akan selalu berpikir tentang manfaat pengondisian, menjadi “champion of safe”, perkembangan skills yang lambat, dan akan lebih tertarik dengan latihan di permukaan tanah daripada berlompat-lompatan di atas atap. Persis seperti yang Anda lakukan untuk setiap kelompok sosial baru anak Anda, periksalah di komunitas mana anak Anda mendapatkan informasi tentang parkour. Jika mereka tampak seperti pencari sensasi, jika mereka menjauhkan diri dari keselamatan, maka mereka tidak berlatih parkour. Namun jangan biarkan ini menghalangi ketertarikan anak Anda. Sebaliknya, membantu anak Anda (dan sangat mungkin rekan-rekan nya) menemukan sumber daya yang tepat untuk pendekatan pelatihan parkour yang aman dan sikap yang benar.

Seperti aktivitas fisik lainnya, Parkour mempunyai resiko yang terlibat. Sangatlah bodoh untuk balik berdebat. Namun risiko di Parkour itu tidak jauh berbeda dengan kegiatan fisik lainnya. Risiko ini dapat berkurang, dan bahkan dihilangkan, dengan pelatihan yang tepat dan program pengkondisian. Jika anak Anda tertarik untuk memulai latihan Parkour, doronglah dia untuk mulai dengan program pengkondisian. Pelatihan yang terlibat dalam pengondisian Parkour akan terlihat lebih akrab bagi Anda: squats, pushups, pullups, berlari, dan latihan yang serupa. Sulit untuk membantah terhadap manfaat dari latihan tersebut, terutama karena kebanyakan program kebugaran, dan tim olahraga sekolah terorganisir, menggunakan latihan-latihan yang serupa selama latihan dan sesi pelatihan. Sebenarnya, ini semacam pelatihan kebugaran, tidak sembrono melompat-lompat, yang biasanya dijadikan dasar dari suatu latihan para traceur.

Kedua, lihatlah apakah ada pelatihan komunitas parkour di daerah anda. Sebagian besar daerah perkotaan telah membentuk kelompok parkour yang berlatih bersama-sama. Ini biasanya kelompok informal yang berkumpul dan berlatih di lingkungan yang mendukung secara teratur. Kota-kota kecil mungkin juga memiliki komunitas parkour, atau setidaknya satu atau dua traceurs yang melatih bersama-sama. Ini adalah cara yang baik bagi anak Anda untuk belajar dari para traceur yang lebih berpengalaman dan dapat menambah teman baru, dan juga bagi Anda untuk memiliki kesempatan untuk memeriksa secara langsung cara latihan parkour. Jika tidak ada grup di daerah Anda, jangan biarkan hal ini mematahkan semangat Anda atau anak Anda. Banyak traceur yang berlatih sendiri, dan bahkan para pendiri disiplin ini melakukan banyak latihan sendiri. Ada banyak informasi yang benar di internet untuk membantu traceur berlatih sendiri, dan internet komunitas parkour terkenal mendukung dan membantu.

Berlatih parkour secara serius tidak hanya akan membantu anak Anda menjadi lebih sehat secara fisik dan aktif, tetapi juga akan memperkenalkan dia untuk seluruh komunitas dari orang-orang yang tertarik untuk hidup sehat. Traceur serius adalah mereka yang sangat tertarik dalam latihan, gizi, dan kesejahteraan. Anak Anda akan banyak mendapat pelajaran yang berguna, informasi bermanfaat melalui latihan Parkour yang akan memiliki manfaat kesehatan dan kesejahteraan sepanjang hidupnya.

Parkour adalah non-kompetitif dan tidak memerlukan kemampuan khusus atau peralatan, yang membuatnya menjadi jauh lebih mudah diakses untuk mengejar fisik daripada olahraga tim paling terorganisasi. Semua yang diperlukan untuk sukses dalam Parkour adalah sebuah keinginan untuk bekerja keras dan menjadi aman. Banyak traceurs telah mengamati bahwa pelatihan fisik mereka dalam mengatasi kendala telah diterjemahkan ke dalam peningkatan kemampuan untuk mengatasi hambatan mental atau emosional. Disiplin dan dedikasi yang diperlukan untuk pelatihan parkour para traceur dapat membantu dalam semua bidang kehidupan, bukan hanya di parkour. Ekspresi yang umum dari ini, di kalangan parkour, adalah, “Saya tidak lagi melihat hambatan, tapi kesempatan.” Melalui latihan Parkour, para traceur dapat belajar keterampilan hidup seperti penetapan tujuan, ketekunan, hidup sehat, bekerja sama dalam sebuah komunitas, membantu orang lain, disiplin diri dan motivasi, dan ketekunan. Ini dapat terbawa ke dalam kehidupan sekolah, hubungan pribadi, dan tanggung jawab pekerjaan dan karir.

Ketiga, mencoba mengikutkan anak anda ke sebuah “Jamming” atau lebih (contohnya Jamming Regional atau Nasional). Jamming adalah pertemuan besar dari para traceurs, biasanya dari lingkup daerah geografis yang lebih luas, lebih dari akhir pekan yang diperpanjang. Kegiatan ini adalah peluang yang bagus untuk belajar. Kegiatan ini adalah kesempatan bagi anak Anda untuk bekerja dengan kelompok yang lebih besar, dan seringkali dengan lebih para traceur yang berpengalaman. Orangtua akan selalu diterima di kegiatan jamming, baik sebagai pengamat atau sebagai peserta (Ya, Anda mungkin menemukan kalau Anda menyukainya juga!), dan akan mendapat manfaat saat menghadiri jamming. Anak Anda akan selalu tahu tentang kegiatan jamming yang akan datang dari pengumuman di internet. Jika anak Anda mengungkapkan minat untuk menghadiri sebuah jamming, coba lihatlah ke dalamnya dan mempertimbangkan kemungkinannya secara adil. Kegiatan ini fantastis, pengalaman belajar yang positif dan menciptakan peluang untuk sebuah persahabatan baru, karena dengan bersatu-padu, menyambut sifat alami masyarakat parkour. Lebih jauh lagi, pengalaman bepergian ke jamming, mengatur penginapan, penganggaran uang, berkomunikasi dengan kelompok besar, dan pengelolaan jadwal semua berharga memberikan keterampilan hidup dalam lingkungan yang mendukung, lingkungan yang terstruktur.

Terakhir, cara terbaik untuk memahami parkour adalah mencoba sendiri! Parkour adalah cara alami bergerak, telah terprogram dalam DNA kita dari jaman prasejarah. Parkour adalah semua tentang permainan. Permainan seperti tag, ikuti-sang-pemimpin, dan “lahar panas” semua adalah bagian dari latihan Parkour. Parkour tersedia untuk setiap orang, kapan saja, tanpa memperhatikan tingkat kebugaran atau pengalaman. Seperti disebutkan, semua yang diperlukan adalah keinginan untuk bekerja keras dan menjadi aman. Praktisi Parkour berasal dari segala usia dan semua lapisan kehidupan, sehingga Anda tidak akan terlihat sebagai ” orang aneh” untuk mencoba itu. Parkour menyambut semua kalangan, dan sebagian besar traceurs begitu bergairah tentang disiplin ilmu mereka dan mereka lebih senang lagi untuk menyambut siapa saja yang tertarik untuk mempelajari lebih banyak tentang parkour, tanpa memandang jenis kelamin atau usia. Ini bukan hanya untuk remaja laki-laki! Apa cara yang lebih baik untuk mendapatkan bentuk dan ikatan dengan anak Anda selain mencoba Parkour itu sendiri (bersama-sama dengan anak Anda)?

Translated : Fadly Bullseye
http://www.americanparkour.com/content/view/3499/378/

Wawancara David Belle – April 2009

Written by qronoz on May 17, 2009 – 10:40 pm -

Artikel berikut merupakan wawancara dengan penjelasan yang luas dan sangat mendalam yang pernah dilakukan bersama David Belle, sang pendiri parkour. Dalam wawancara tersebut David memberikan penjelasan mengenai berbagai macam topik mencakup peralihan profesi dari menjadi seorang pemadam kebakaran hingga menjadi seorang aktor, proses belajar dan latihan parkour yang didapatkan dari ayahnya, dan rencana di masa depan terkait dengan aktivitas parkour dan mengembangkan pengetahuan serta aktivitas lain dalam berbagai segi kehidupan.

Wawancara ini dilakukan hanya beberapa bulan setelah peluncuran film B13 – Ultimatum, dan disebarluaskan kepada publik melalui Australian Parkour Association (Asosiasi Parkour Australia / APA). Ucapan terima kasih secara khusus diberikan kepada Raphael Koster yang telah melakukan wawancara secara langsung dan juga Benjamin Mossé yang telah menterjemahkan wawancara tersebut.
_________________________________________________________________________

Kenapa anda memilih untuk beralih profesi dari sebagai pemadam kebakaran menjadi seorang aktor/stuntman?

Pertama-tama, setelah menjadi seorang pemadam kebakaran, saya bergabung dengan angkatan bersenjata. Saya tergabung dalam infantri militer. Merupakan suatu kebetulan bagi saya untuk tergabung dalam dunia perfilman. Itu bukanlah merupakan sebagai suatu pekerjaan. Bukan sesuatu yang saya ingin lakukan semenjak kecil. Apa yang saya inginkan hanyalah untuk membuat olahraga saya dikenal: yakni agar parkour dikenal dan diakui. Kakak saya pernah menunjukkan video singkat saya kepada media dan mereka pun tertarik, yang akhirnya menggiring saya ke dalam dunia perfilman. Akan tetapi, akting bukanlah sesuatu yang pada dasarnya ingin saya lakukan. Sekarang saya berada di bidang tersebut, saya mencoba untuk dapat menikmatinya dan tidak membuang kesempatan yang diberikan. Jika terdapat kesempatan dalam dunia perfilman, saya akan mengambil kesempatan tersebut. Bila memang tidak memungkinkan, saya akan mencari sesuatu yang lain. Walaupun demikian, saya tidak memikirkan untuk berkarir di bidang tersebut. Saya merasa lebih dari sekedar bahagia dengan “District B13“. Hal tersebut dirasa sudah lebih dari cukup bagi saya untuk dapat menceritakannya kepada anak-anak saya. Pada saat setelah menyelesaikan B13, saya katakan kepada diri saya sendiri: “Kalaupun hanya akan ada satu ini (District B13), saya sudah cukup bahagia karena parkour telah mendorong saya untuk melakukannya; untuk dapat mengenalkan parkour kepada masyarakat umum dan juga membuat saya dikenal.” Untuk kelanjutannya, lebih baik untuk tidak membuat suatu rencana apa yang harus ataupun tidak boleh terjadi.

Anda berbicara seolah-olah anda tidak membuat suatu keputusan pun berdasarkan keinginan anda sendiri, seolah-olah itu semua terjadi dengan sendirinya…

Memang semua terjadi seperti itu… saya tidak memiliki suatu strategi. Saya tak pernah mencoba “menjual” diri saya untuk beraksi dalam film. Saya tidak mengharapkan apa pun. Itu semua bermula dari sebuah film dokumenter yang pernah ditampilkan pada televeisi. Sejak itu, saya hanya mengambil apa yang ditawarkan oleh orang lain. Bahkan pada hal yang terakhir, Prince of Persia, saya tidak meminta pekerjaan itu, mereka yang menghubungi saya setelah saya menyelesaikan film B13 – Ultimatum. Mereka menghubungi saya sekitar empat kali, mendesak saya untuk bekerja sama dengan mereka. Saya sedang mengerjakan film lain saat itu sehingga akhirnya kami menyepakati bahwa saya akan bekerja sama dengan mereka pada waktu-waktu luang yang saya miliki. Parkour kini telah melebur dalam bebagai hal dalam film, setiap kali ada aksi kejar-kejaran ataupun lompatan mereka menggunakan parkour. Kami dengan jelas dapat memperhatikan hal-hal tersebut, lompatan yang mereka lakukan tampak berbeda.

Apakah perbedaan antara menyiapkan diri untuk aksi ketangkasan (stunt) dalam film dan untuk proses latihan?

Saya melakukannya dengan cara yang sama. Parkour… saya sudah selesai dengan hal tersebut. Orang-orang mulai tertarik terhadap seni tersebut, tapi saya telah cukup mendalaminya. Saya juga memiliki ketertarikan pada hal-hal lain. Ketika seseorang membahas tentang parkour, saya tidak akan mengatakan, “Itu sudah terlambat”; umumnya saya akan menjawab, “Seharusnya anda datang ketika saya berusia 20 tahun. Saya sangat termotivasi saat itu… setiap detik dalam hidup saya adalah untuk parkour ketika itu.” Sekarang saya dapat belajar untuk memainkan musik, seperti gitar atau apapun itu; yang terpenting adalah saya ingin belajar banyak hal lainnya. Parkour bukan satu-satunya hal dalam hidup. Beberapa orang mengatakan kepada saya, “Parkour keren! Saya harus bisa melakukannya.” Saya juga memiliki beberapa ketertarikan pada hal-hal yang lain. Parkour merupakan suatu metode latihan yang sebaiknya setiap orang melakukannya karena dapat membantu untuk memindahkan diri kita (bergerak) dalam lingkungan perkotaan (urban) ataupun alam bebas dan belajar untuk beradaptasi diri pada lingkungan tersebut. Bagaimanapun, bagi saya, belajar hal-hal lain seperti memasak merupakan hal yang penting seperti halnya dengan melakukan parkour. Mengetahui bagaimana cara untuk memperbaiki mobil, menolong orang lain yang mengalami serangan jantung, dsb., bagi saya hal-hal tersebut adalah hal yang paling mendasar dalam hidup. Saya tidak seperti penggiat suatu seni bela diri yang pada usia 80 tahun tetap melatih gerakan (pukulan) yang sama terus-menerus. Bahkan pada hal tersebut tampaknya orang tersebut belum bertarung untuk hidupnya dan saya ingin mengatakan kepadanya, “Berhentilah memukul, tenangkan diri, dan hiduplah secara normal; nikmati hidup anda,” karena akan menjadi terlalu kaku bagi seseorang apabila terlalu terfokus pada suatu hal saja… dan saya tidak ingin berakhir seperti itu. Ketika anda mendapatkan ijazah mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), anda tidak akan bergerak untuk menyelamatkan orang lain setiap hari tapi lebih seperti “jika sesuatu terjadi, saya akan tahu apa yang harus dilakukan.” Saya selalu berlatih parkour dengan mental seperti demikian. Persetan bagi saya apabila ada yang mengatakan kepada saya, “Hey, berikan suatu contoh demonstrasi! atau apa pun lah namanya…” Saya tidak pernah berlatih parkour untuk memberikan suatu pertunjukan atau sekedar pamer. Bagi saya, parkour adalah sesuatu yang bersifat personal. Hanya saja itu menjadi popular dengan sendirinya. Saya bukan orang yang menaruhnya di internet.

Apakah alasan ketidaksetujuan anda dengan Yamakasi adalah karena mereka memindahkan parkour ke dalam film dan pertunjukan?

Tidak. Ketika saya benar-benar memikirkan hal tersebut, tidak ada isu atau persoalan apapun dengan Yamakasi. Saya hanya melakukan latihan yang diajarkan oleh ayah saya. Ketika anda mendengarkan mereka (Yamakasi), mereka akan menjelaskan bahwa mereka melakukan sesuatu yang mereka ciptakan sendiri. Kami semua tinggal di daerah yang sama. Lagipula saat ini grup Yamakasi sudah tidak ada lagi, semuanya telah beranjak pergi; kini disebut sebagai sesuatu yang bernama “Majestic Force”. Ketika eranya Yamakasi, mereka lebih seperti “Kami Yamakasi, dan itu adalah sebuah olahraga”; sekarang mereka bergerak menuju Parkour Generation karena projek tersebut berjalan lancar. Kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa hal tersebut terjadi? Kami memiliki olahraga yang sederhana, kenapa semua orang harus memberikan suatu nama yang baru? “Itu seperti parkour tetapi disebut sebagai Free Running…” Tetapi itu tetaplah parkour! Ketika anda pergi ke berbagai negara di dunia anda akan mengatakan “Saya bermain sepak bola ataupun bola voli.” Nama olahraga tersebut tidak berubah. Oleh karenanya kenapa kita harus merubah nama parkour kecuali anda ingin melakukan semacam bisnis dan berharap untuk berkata, “Saya adalah pencipta dari olahraga baru ini, persis seperti parkour hanya saja bedanya anda melompat hanya menggunakan satu kaki”? Mengganti satu hal hanya untuk mengatakan anda adalah penemu sesuatu dan dapat menghasilkan uang darinya. Tujuan dari parkour bukanlah untuk menghasilkan uang ataupun menciptakan bisnis. Tidak terdapat suatu tujuan keuangan (finansial) di dalamnya. Parkour seharusnya diajarkan kepada orang-orang yang ingin mempelajarinya. Jika mereka tidak memiliki uang maka itu bukanlah suatu masalah karena anda tidak membutuhkan uang untuk melakukan parkour, cukup sepasang sepatu yang bagus dan itu sudah sudah cukup. Sekarang orang-orang mulai berkata seperti “Perhatian! Akademi akan segera dibuka!” atau “Akan didirikan sebuah Pusat Parkour dan bla bla bla”. Bagi saya, mempelajari parkour adalah di luar (ruangan)! Latihan parkour yang sesungguhnya dilakukan di luar. Anda dapat saja melakukan apapun dengan pusat (pelatihan) tersebut, menambahkan beberapa matras, tetapi pada akhirnya orang-orang akan latihan di luar.

Kepentingan apa yang mendorong anda menciptakan parkour?

Ini merupakan sesuatu yang ayah saya telah ajarkan kepada saya. Saya telah melihat dan mendengar berbagai hal yang telah beliau lakukan sebagai seorang pemadam kebakaran – beliau benar-benar seorang legenda. Saya ingin mengetahui tentang sejarahnya. Terlepas apakah ayah saya memang diberkati maka dengan demikian saya tidak akan mampu seperti beliau, atau karena beliau telah berlatih keras untuk mendapatkan semua kemampuan itu dan dalam hal ini berarti ada suatu hal yang dapat diajarkan kepada saya. Kemudian saya mulai menyadari latihan-latihan yang telah dilakukan beliau. Beliau berlatih seperti latihan yang belum pernah saya lakukan selama hidup saya. Dibandingkan dengan beliau, saya hanyalah anak kecil yang sedang bermain-main. Ketika saya memikirkan semua latihan fisik yang telah dilakukannya, saya berkata kepada diri saya sendiri, “Apakah itu semua adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kemampuan seperti beliau? Semua itu terlalu berat!” Banyak orang membayar untuk mendapatkan pelatihan, tetapi dalam perkiraan saya jika ada yang berlatih satu hari saja dengan ayah saya, tidak ada yang akan datang kembali. Itu menunjukkan betapa beratnya latihan tersebut. Terlalu banyak orang berlatih dengan (pikiran) mudah “Ayo ikutan parkour! Keren lho!” Tetapi apabila saya mengajak anda untuk latihan yang sebenarnya, pada akhirnya anda akan menangis. Itu hal yang perlu anda pahami: anda akan menangis, anda akan berdarah-darah, dan anda akan berkeringat seperti yang belum pernah anda alami sebelumnya. Saya tidak berbohong mengenai hal ini. Kemudian anda akan datang kepada saya dan berkata, “Hey, saya ingin belajar parkour, tetapi santai saja, saya tidak ingin terlalu dipaksakan,” kalau begitu lakukan kegiatan lain saja! Ini adalah sesuatu untuk para prajurit. Sebuah metode latihan bagi para prajurit. Hal ini tidak seperti “Saya ingin belajar bertarung; tetapi jangan pukul aku terlalu keras karena aku tidak menyukainya.” Dengan demikian, lakukanlah sesuatu yang lain! Bila anda ingin menjadi prajurit yang sesungguhnya anda harus melewati masa-masa sulit.

Apa kegunaan parkour?

Mudah, kita memiliki dua tangan: digunakan untuk memegang sesuatu. Kita dapat memegang sesuatu untuk memindahkan diri kita sendiri. Kita dapat mengangkat diri kita sendiri. Kita dapat melompat dan lari dengan kaki kita. Kita dapat berenang. Secara insting, anda mengetahui bahwa anda dapat melakukan hal-hal tersebut. Ketika anda berenang anda mengetahui hal itu ada di dalam diri anda. Itu bukan untuk apa-apa. Anda tidak diharuskan untuk menjadi ahlinya, tidak seperti ahli panjat (tebing). Anda tetap dapat mengalami semuanya dan menurut saya itulah hidup. Jangan menutup diri anda sendiri terhadap sesuatu dan berpikir bahwa anda telah menemukan suatu kebenaran dan memahami hidup. Banyak orang membuka pikirannya melalui berbagai hal seperti musik dan melukis, begitu juga dengan parkour. Bagaimana tidaklah penting. Hal yang penting adalah membuka pikiran anda karena anda akan mendapatkan kebebasan melaluinya. Saya pikir ketika anda berlatih parkour, anda akan memahami arti kebebasan khususnya terkait dengan masyarakat. Hal tersebut benar-benar membuka pikiran saya. Tetapi bukan berarti akan memberikan efek yang sama kepada orang lain. Apa yang bagus bagi seseorang tidak selalu bagus bagi orang lain.

Apakah kebebasan dalam parkour?

Setelah sesi latihan yang baik, dan persiapan fisik yang bagus, kita dapat mengetahui kemampuan diri, dengan demikian kita dapat mengembangkan diri tanpa terganggu oleh orang lain. Tetap dengan menghormati yang lain, tapi tidak terganggu oleh yang lain. Sekarang saya harus membenarkan diri sendiri; khususnya kepada para polisi. Akan tetapi, saya juga memahami mereka, ketika mereka melihat saya sedang memanjat sesuatu, mereka akan berpikir bahwa saya telah mencuri. Terdapat banyak masa-masa sulit seperti itu sehingga saya berpikir untuk pindah ke negara lain seperti Thailand atau bahkan ke Inggris, atau di manapun tempat yang tidak menjadikan polisi sebagai suatu persoalan tersendiri.

Bahkan di Inggris?

Ya! Walaupun di sana terdapat banyak sekali kamera (keamanan), polisi mengetahui tentang parkour. Sedangkan di Perancis, ini menjadi suatu persoalan yang menyebalkan walaupun olahraga tersebut dikembangkan di sini (Perancis). Sudah sekitar 10 sampai 15 tahun sejak parkour pertama kali diliput oleh media di Perancis dan tidak ada yang mengetahui tentang hal itu. Saya seringkali ditanyakan hal yang sama berulang-ulang ketika kami berada di jalanan, persis seperti 15 tahun yang lalu ketika semua baru dimulai. Hal ini benar-benar membuat saya kecewa karena persepsi publik tidak dapat berkembang secepat perkembangan yang terjadi di dalam parkour itu sendiri. Seandainya saja kami memiliki sumber daya dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang bagus, sayangnya kami tidak memilikinya. Saat ini semua orang mencoba untuk membuat jalannya masing-masing, kita bergerak dalam suatu lingkaran; tetapi ini bisa saja dilakukan sudah sejak beberapa waktu yang lalu! Saya tidak akan terkejut apabila hal yang saya inginkan akan terjadi pada saat saya sudah berumur 60 tahun dan saya tidak mampu untuk bergerak seperti saat ini. Apa yang ingin saya capai adalah sesuatu yang lebih baik; sesuatu yang dekat dengan jalan. Mungkin suatu tempat berkumpul di luar. Saya ingin membuat suatu yayasan dan mendapatkan 500.000 euro atau bahkan 1.000.000; dengan itu saya dapat berkata, “OK! Mari kita investasikan uang tersebut untuk membuat tempat ini khusus untuk parkour.” Tidak seperti “OK.. bagus.. tetapi saya akan mengambil bagian saya karena saya yang menciptakan disiplin ini.” Tidak! Saya tidak akan mengambil satu sen pun. Jika kami mendapatkan uang tersebut, dikarenakan orang-orang memang menginginkan tempat seperti itu. Dengan demikian, kami akan menggunakan uang tersebut untuk membangun tempat yang diinginkan dan cukup seperti itu saja. Ketika saya sedang memikirkan hal tersebut, dengan uang yang saya miliki hasil dari film dan hal-hal lain, seperti halnya Yamakasi… seandainya saja semua terkumpul, semua (rencana) itu mungkin sudah selesai dilaksanakan. Tetapi sayangnya, semua orang melakukan keinginannya masing-masing, memperdebatkan kembali tentang asal mula semua ini, beberapa tidak mau mengakuinya bahwa berasal dari satu tempat; saat ini kami malah terpecah bukan menyatu.

Saat ini kami berada dalam suatu strategi “Divide and Conquer” (memecah dan menguasai, red.)

diterjemahkan oleh Roni Sambiangga a.k.a alniubi
sumber : http://www.misterparkour.com/interview-with-david-belle/

Terjemahan Interview Stephane Vigroux (Parkour Generations)

Written by qronoz on April 3, 2009 – 11:22 am -


*untuk subtitle Bahasa Indonesia, play video terlebih dahulu, kemudian klik panah di kanan bawah tampilan Youtube, pilih kotak yang kedua, kemudian pilih ‘Indonesian’*

  • Permulaan

Sejarah dari parkour dan art du dispacement dimulai dari sekelompok anak muda yang menamakan diri mereka Yamakasi. Grup Yamakasi beranggotakan David Belle, Sebastian Foucan, Yann Hnautra, Charles Perrière, Malik Diouf, Guylain N’Guba-Boyeke, Châu Belle Dinh, Williams Belle, Laurent Piemontesi. Mereka adalah sekelompok teman yang melakukan suatu seni yang sama.

Kemudian karena adanya perbedaan cara pandang, muncullah beberapa nama untuk seni ini. David memilih parkour, dan Sebastian memilih freerun. Namun pada dasarnya, saya rasa semua setuju, ini semua bermula dari satu disiplin yang sama, nama yang sama, bentuk latihan yang sama. Sekarang itu telah berubah dan muncul nama-nama berbeda, namun pada permulaannya ini adalah latihan yang sama.

Mengenai saya, saya berlatih bersama David, kemudian saya bertemu Yamakasi setelahnya. Ini merupakan sesuatu yang baru, sangat menarik, dan sangat ditekuni dalam banyak hal: secara fisik dan mental. Saya hanya kagum akan bagaimana seseorang dapat mendesak diri mereka masing-masing.

Menjadi kuat adalah awal dari semuanya, apa artinya? Mereka menaruh nilai di balik kata ini – to be strong. Jadi ini dimulai secara fisik, melakukan tantangan-tantangan. Dapatkah kamu mengangkat batu ini? Dapatkah kamu mengangkat mobil ini? Dapatkah kamu mendorong ini? Dapatkah kamu melompat dan meraih tembok ini?

Mereka mulai menaruh angka-angka yang cukup tinggi dalam jumlah repetisi yang mereka lakukan dan melibatkan banyak insting. Pada saat itu belum ada metode yang jelas mengenai latihan seperti saat ini. Ini butuh waktu, bahkan untuk mereka, untuk memahami mengapa mereka melakukannya. Read more »